Andrias Harefa Kolomnis

Sukses itu Bahagia

success

Sukses sejati berarti memiliki untuk dapat memberi, memiliki untuk dapat belajar menerobos kemapanan, belajar untuk bersyukur dan menebarkan cinta kasih, belajar untuk bertumbuh dan berkembang.

Konon, dalam budaya masyarakat Jawa, pria sukses didefinisikan sebagai orang yang memiliki lima hal penting. Pertama, sukses berarti memiliki garwo alias istri. Seorang lelaki yang belum beristri dianggap “belum lengkap”. Bahkan dalam cerita raja-raja Jawa, memiliki istri saja masih kurang mentereng. Selain permaisuri yang memiliki hak melahirkan putra mahkota, para raja umumnya memiliki selir-selir yang menakjubkan jumlahnya dan sebagian dipersembahkan oleh raja-raja kecil yang takluk sebagai upeti. Hal ini sering mengingatkan saya kepada raja dengan jumlah garwo terbanyak—sampai 1.000 orang—bernama Sulaiman (Salomo) yang tercatat dalam Kitab Suci agama Yahudi, Kristiani, dan Islam.

Kedua, sukses berarti memiliki banyak pusoko. Ini menyangkut bukan saja keris, badik, rencong atau senjata andalan—yang sebagian disebut “kiai”—tetapi juga sederet kedudukan atau pangkat dan juga gelar kebangsawanan atau kesarjanaan. Semakin ampuh senjata koleksinya, semakin tinggi pangkatnya, semakin banyak gelarnya, semakin “sukses” ia di mata pengikutnya. Welin Kusuma, pria kelahiran Makassar yang dalam usia 33 tahun telah meraih hampir belasan gelar, antara lain ST, SE, SSos, SH, SKom, SS, SAP, SStat, MT, MSM, MKn, adalah orang sukses dalam pemahaman ini. Gelarnya itu diperolehnya beberapa dari Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, Institut Teknologi Surabaya, Universitas Terbuka, dan sebagainya. Welin bahkan masih bisa menambahkan gelar akademisnya itu dengan 10 gelar professional designations seperti RFP-I, CPBD, CPPM, CFP, AffWM, BKP, QWP, AEPP, WPEE, dan seterusnya.

Ketiga, sukses berarti memiliki wismo atau rumah. Rumah yang bertambah semakin banyak atapnya, semakin luas tanahnya, semakin megah bangunannya, semakin sukseslah seseorang. Kalau rumah masih kontrakan atau belum lunas cicilannya, atau luasnya kurang dari lapangan bola, masih jauhlah ia dari sukses.

Keempat, sukses berarti memiliki turonggo atau kendaraan tunggangan. Kalau dahulu hal ini diidentikkan dengan berbagai jenis kuda, maka sekarang diartikan sebagai kendaraan modern yang mewah seperti Volvo, BMW, Porsche, Lexus, Lamborgini, Mercedez, Jaguar, Ferrari, Aston Martin (mobil James Bond) atau sejenisnya. Semakin banyak dan mahal, semakin sukseslah si pemiliknya dipandang orang.

Kelima, sukses berarti memiliki kukilo. Jika dahulu berarti perkutut, maka sekarang dapat diartikan apa saja yang berfungsi sebagai pengisi waktu luang, semacam hobi atau klangenan yang relevan. Main golf di lokasi eksklusif, mengoleksi batuan permata dan berlian, berburu lukisan mahal, pesiar dengan kapal pribadi, koleksi ikan arwana, macan tutul atau gading dari Afrika, termasuk dalam kategori ini.

Definisi sukses di atas bersifat seksis, diskriminatif berdasarkan jenis kelamin. Karenanya dalam perkembangannya kemudian masyarakat memberikan definisi baru yang lebih netral.

Sukses kemudian diberikan atribut “baru”, yakni: car, credit card, car phone, condominium and career. The Five-C ini tidak memiliki perbedaan esensial dengan sukses sebagaimana disebut di atas. Car identik dengan turonggo, condominium searti dengan wismo, career sama dan sebangun dengan pusoko. Halnya garwo, mungkin masih berlaku juga bagi lelaki. Hanya untuk wanita yang memiliki banyak lelaki masih belum positif citranya di masyarakat kita. Wanita sukses masih dihubungkan dengan suami dan anak. Punya karier bagus tanpa suami dianggap masih kurang lengkap. Apalagi kalau punya anak tanpa suami.

Soal car phone dimasukkan sebagai syarat sukses karena diasumsikan sebagai bukti keakraban dengan teknologi modern. Tak dipersoalkan apakah itu aset yang bernilai produktif atau hanya untuk kepentingan konsumtif—semacam kukilo yang berfungsi sebagai klangenan. Dan soal credit card dijadikan indikasi banyaknya uang di bank. Kartu kredit menjadi simbol manusia kaya raya. Semakin banyak kartu yang dikantunginya (Visa dan Master dari berbagai bank, Amex, Diners, dan credit card lainnya), semakin “berhak” orang merasa dirinya sukses.

Pandangan sukses di atas secara tegas mengatakan bahwa sukses berarti to have—memiliki. Jika Anda memiliki banyak, maka Anda sukses.

Pertanyaannya: Apakah dengan memiliki banyak orang menjadi bahagia? Apakah kebahagiaan itu? Apa ciri orang yang bahagia? Thomas Szaz, seorang psikiater, pernah menuturkan bahwa kebahagiaan adalah “…suatu keadaan imajinatif yang dahulu dikenakan oleh mereka yang masih hidup kepada orang yang telah meninggal, dan sekarang biasanya dikenakan oleh orang yang sudah dewasa kepada anak-anak dan sebaliknya dari anak-anak kepada orang dewasa.” Artinya anak-anak berpikir betapa bahagianya menjadi orang dewasa, yang bebas memilih, dipercaya, punya uang, kuat, dan sebagainya. Karena itu mereka ingin cepat-cepat dianggap dewasa (dengan meniru berbagai perilaku orang dewasa, misalnya). Sementara itu orang dewasa mengingat masa kanak-kanak mereka sebagai masa-masa bahagia. Pada masa itu tidak ada tanggung jawab, tidak ada tuntutan, tidak banyak kewajiban, hanya bermain, makan dan tidur sesuka hati.

Bahagia juga dipahami sebagai suatu keadaan hati yang abadi yang berupa kepuasan, keadaan damai sejahtera dan pengharapan yang amat mendalam—bukan sekadar getaran-getaran perasaan yang tidak berarti karena mengalami peristiwa yang menyenangkan. Dalam pengertian Webster, orang yang tidak bahagia bukanlah orang sukses, sekalipun ia serba memiliki. Oleh karena itu Webster mendefinisikan sukses sebagai “kepuasan batin atau kebahagiaan karena pencapaian sasaran-sasaran tertentu dalam tahap-tahap kehidupan.” Apabila orang memiliki segala sesuatu yang diinginkannya, tetapi ia tidak mengalami kepuasan batin, maka orang itu belum sukses.

Pertanyaannya, bagaimana kita mengukur atau mengetahui apakah seseorang itu bahagia atau tidak? John Powel dalam Happiness Is An Inside Job, menuturkan bahwa kata bahagia dan kebahagiaan diambil dari kata latin beatus dan beatitude yang berarti tantangan dan perolehan, yakni menjanjikan memberikan (secara tak langsung) kebahagiaan sejati kepada orang yang menyambut tantangan dan selangkah demi selangkah memperoleh sesuatu, mencapai sesuatu, atau menyelesaikan sesuatu.

Dalam bukunya Powel menyebutkan Sepuluh Laku Hidup Bahagia sebagai berikut: Pertama, menerima diri apa adanya; kedua, menerima sepenuhnya tanggung jawab atas hidup kita; ketiga, berusaha memenuhi segala kebutuhan kita untuk bersantai, berolahraga, dan makan; keempat, hidup kita harus kita jadikan wujud cinta kasih; kelima, kita harus menghirup udara baru dengan keluar dari kungkungan kemapanan yang nyaman; keenam, kita harus belajar menjadi “penemu jalan baik”; ketujuh, kita harus mengupayakan pertumbuhan, bukan kesempurnaan; kedelapan, kita harus belajar berkomunikasi secara efektif; kesembilan, kita harus belajar bersukacita atas hal-hal baik dalam hidup; kesepuluh, kita harus berdoa sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari. Dan, yang paling menarik dari Powel adalah pernyataannya bahwa kodrat hidup manusia adalah hidup bahagia. Dengan kata lain, segala upaya untuk hidup bahagia adalah upaya memenuhi “panggilan kodrati” sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Menjadi sukses mungkin menarik bila sukses berarti bahagia. Dan pandangan sukses sebagai memiliki segala sesuatu yang diinginkan dapat mereduksi kemanusiaan seseorang. Sukses sejati berarti memiliki untuk dapat memberi, memiliki untuk dapat belajar menerobos kemapanan, belajar untuk bersyukur dan menebarkan cinta kasih, belajar untuk bertumbuh dan berkembang.

Menjadi sukses sungguh “mengerikan”, bila dengan memiliki banyak kita justru terisolasi dan teralienasi (terasing, merasa hampa dalam kemewahan materi) dari hidup dan kehidupan itu sendiri. Bukan begitu?

*) Andrias Harefa
Author: 40 Best-selling Books; Speaker-Trainer-Coach: 22 Years Plus
Alamat www.andriasharefa.com – Twitter @ aharefa

Telah di baca sebanyak: 2671
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *