Agung Praptapa

Sukses Menulis Karena Marah dan Dendam


Pernahkah Anda merasa diperlakukan dengan tidak adil sehingga harus marah dan dendam? Saat bos kita di kantor memberikan perhatian kepada teman kerja lain dan menyepelekan kehadiran kita akan membakar kita untuk marah. Demikian juga kalau kita merasa diperlakukan tidak adil di dalam pembagian kerja dan pembagian honor. Rasanya pingin marah. Marah yang tidak henti-hentinya akan menimbulkan dendam. Banyak sekali alasan untuk membuat kita marah dan dendam. Istri yang tidak memahami apa yang kita maui akan memancing marah. Anak-anak kita yang nakal juga memancing marah. Itu memang manusiawi. Tapi harus kita ingat, marah dan dendam akan menguras energi. Kita akan capai sendiri karenanya. Padahal sudah dapat dipastikan bahwa marah bukanlah solusi untuk mengatasi masalah apapun.

Tapi marah kan manusiawi? Iya betul. Siapa sih yang tidak pernah marah? Marah adalah suatu bentuk mencari keseimbangan. Marah yang terlampiaskan biasanya akan meredakan amarah itu sendiri. Marah mambuat kita tegang. Saat marah, energi negatif ada pada diri kita. Melampiaskan marah seperti halnya membuang energi negatif. Begitu energi negatif berhasil kita buang, berkuranglah stok energi negatif pada diri kita. Sehingga kita bisa menjadi kembali seimbang. Kalau demikian setiap kali marah langsung saja kita lampiaskan? Dalam rangka membuang energi negatif itu bisa saja. Hanya saja kita harus ingat bahwa melampiaskan marah tidak selalu tanpa respon. Saat kita melampiaskan amarah bisa saja menimbulkan marah dari pihak lain. Atau bisa juga akan menimbulkan kerusakan barang-barang di sekitar kita kalau cara melampiaskan amarah dengan cara membanting sesuatu. Kalau respon lingkungan negatif, bukannya energi negatif yang berhasil kita buang, tetapi kita justru akan mendapat tambahan energi negatif. Kalau ini terjadi maka yang kita dapatkan adalah amarah kita yang semakin membesar, amarah orang lain yang semaikin membesar pula, dan akhirnya energi negatif yang ada pada diri kita maupun orang lain akan semakin banyak. Ingat rumus bahwa “energi negatif akan mencari teman energi negatif pula”. Jadi bisa kita bayangkan bagaimana akibatnya kalau kita memelihara energi negatif pada diri kita. Kita akan semakin capai. Konsentrasi terganggu. Mau ini salah. Mau itu salah. Cape deh…!

Untuk itulah saya disini menawarkan konsep konversi, yaitu mengonversi energi negatif menjadi energi positif. Ini seperti halnya mengonversi kompos menjadi biogas. Marah dan dendam yang merupakan energi negatif juga bisa kita konversi menjadi energi positif. Konversi energi negatif menjadi energi positif tidak beresiko seperti apabila kita membuang energi negatif. Membuang energi negatif bisa memancing timbulnya energi negatif lainnya. Sedangkan mengonversi energi negatif menjadi energi positif tidak menimbulkan efek samping negatif. Tanpa resiko dan menyehatkan. Bagaimana caranya?

Cara yang saya tawarkan disini adalah melalui menulis. Loh? Kok melalui menulis? Memangnya menulis bisa mengonversi marah dan dendam menjadi energi postif? Iya. Bisa. Makanya saya tawarkan disini. Tingkat keberhasilannya dijamin 100% selama diterapkan dengan benar. Money back guarantee! Kalau tidak berhasil, uang kembali! Meyakinkan bukan?

Memberi Arti Menulis
Saya tergugah dengan pemikiran Andrias Harefa tentang menulis sebagai “Impresi versus Ekspresi”. Banyak orang yang sebenarnya mumpuni untuk menulis tetapi tidak juga menghasilkan tulisan karena takut tulisannya tidak memberikan impresi bagi orang lain. Namun bagi beberapa penulis, mereka menulis sebagai bentuk ekspresi. Penulis yang menulis sebagai ekspresi inilah yang biasanya lebih produktif. Mereka menulis sebagai “giving” tanpa menghiraukan bagaimana nantinya apakah ada “receiving” yang sepadan. Menulis adalah suatu penyaluran ide, pemikiran, pengalaman, bahkan bisa saja sebagai penyaluran amarah dan dendam. Jadi, menulis disini bisa menjadi saluran untuk mengonversi energi negatif menjadi energi positif.

Menulis bagi sebagian orang merupakan bentuk pengharapan. Pengharapan tersebut bisa dalam arti pengharapan berkenaan dengan pendapatan, agar lebih dikenal orang, dan konfirmasi tantang kepakaran. Jadi menulis disini merupakan sarana untuk mendapatkan energi positif bagi penulis.

Menulis juga merupakan bentuk public relation tentang diri kita sendiri. Ini menegaskan kepada publik siapa kita, apa pemikiran kita, dan seperti apa kita ingin dikenal oleh orang lain. Ada yang mengatakan bahwa menulis merupakan self branding, yaitu menegaskan kepada publik simbol seperti apa yang kita inginkan dari publik.

Menulis juga merupakan kegiatan menabung. Bahkan dapat dikatakan menabung yang tidak akan pernah habis. Apa yang kita tabung? Yang kita tabung adalah pemikiran kita, ide kita, yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain pada saat ini sampai saat kapanpun. Saya tersentuh oleh ungkapan salah seorang teman saya yang mengatakan bahwa ia tidak pernah mengenal ayahnya karena ayahnya meninggal dunia pada saat dia masih bayi. “Andaikan ayah saya menulis, saya akan lebih tahu siapa ayah saya sebenarnya, apa pemikirannya, apa petuahnya….sesuatu yang benar-benar saya rindukan” ungkap teman saya tadi dengan mata berkaca-kaca. Saya terharu mendengarnya. Muncul pemahaman baru pada diri saya bahwa menulis merupakan kegiatan menabung, yang dapat kita wariskan, yang tidak akan pernah habis sepanjang masa.

Emas Dalam Marah dan Dendam
Binatang yang buas akan menjadi bermanfaat kalau kita bisa mengendalikannya. Marah dan dendam juga bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat apabila kita bisa mengendalikannya. Cara pengendalian marah dan dendam yang saya tawarkan disini adalah melalui “menulis”. Lampiaskan saja marah kita melalui tulisan, lampiaskan dendam kita melalui tulisan, sehingga amarah teredam, dendam menghilang, dan tulisan tercipta. Kalau demikian apakah tulisan kita nanti akan berisi umpatan-umpatan seperti halnya orang marah? Bukan begitu.

Hampir pasti setiap kita marah itu ada sebabnya. Hanya saja penyebabnya mungkin kita sadari, dan mungkin pula tidak kita sadari. Sebagai contoh kita marah karena teman kerja kita ngobrol dengan teman kerja lain sehingga mengganggu konsentrasi kerja kita. Kalau keputusan kita membentak mereka agar diam karena mengganggu kerja orang lain, akibatnya bisa saja mereka kemudian diam dan kita bisa bekerja dengan tenang tanpa ada suara-suara yang mengganggu. Tetapi bisa pula akibatnya adalah mereka balik marah kepada kita dengan berbagai alasan. Kalau seperti itu jadinya, akan tercipta suasana yang semakin tidak kondusif. Untuk itulah sebelum marah, saya menyarankan untuk mengonversi terlebih dahulu kemarahan tersebut menjadi tulisan. Dalam kasus marah karena merasa terganggu tersebut sebenarnya ada “emas” di dalamnya, yaitu tersedia ide-ide yang bisa kita tulis. Kita bisa menulis beberapa tulisan dari kejadian tersebut. Misalnya tulisan tentang “strategi berkonsentrasi saat terdapat gangguan”, “membangun suasana kerja yang kondusif”, “memahami keragaman pola kerja”, “menjadi karyawan produktif apapun situasinya”, dan tulisan-tulisan lain yang idenya dapat muncul karena kita akan marah. Jadi pada saat akan marah, tahan dulu, ambil ide-ide yang muncul, wujudkan dalam bentuk tulisan.

Demikian pula apa bila terdapat dendam dalam diri kita kepada orang lain. Jangan dipendam dendam tersebut. Kita akan capai karenanya. Lebih baik dendam tersebut kita konversi menjadi ide tulisan. Sebagai contoh, misalnya kita dendam kepada teman kerja kita karena selalu melaporkan secara negatif apa yang kita kerjakan kepada atasan. Kalau melihat dia rasanya kepingin nonjok saja! Nah, kalau dendam ini muncul, cobalah konversikan menjadi ide tulisan. Misalnya, kasus dalam contoh tersebut bisa memunculkan ide untuk menulis tentang “menjadi manusia sabar”, “membangun kompetisi sehat di tempat kerja”, “bagaimana bos harus memilah informasi dari karyawan?”, dan silakan dapatkan ide-ide yang lain yang muncul karena satu kasus tersebut. Jadi semakin banyak kasus yang kita hadapi semakin banyak ide yang bisa kita tulis. Kembali lagi, maka sebenarnya terdapat “emas” di dalam dendam kita.

Tidak sedikit penulis sukses yang mengungkapkan bahwa tulisan yang mereka buat merupakan suatu dendam kepada suatu kejadian ataupun kepada orang-orang tertentu. Ungkapan sakit hati maupun kemarahan yang tak tersalurkan. Kalau kita bisa mengolah hal-hal negatif tersebut secara cerdas dan positif, tentunya akan mengasilkan hal positif, yaitu tulisan yang membangun, yang menyejukkan, yang menginspirasi. Menulis dapat mengonversi energi negatif menjadi energi positif. Tersimpan emas dalam marah dan dendam, yang bisa digali selama kita menulis. Kesimpulannya, menulis adalah solusi.

*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen.Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 3756
admin
Admin Pembelajar.

One thought on “Sukses Menulis Karena Marah dan Dendam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *