Andrew Ho

Tak Sulit Mewujudkan Cinta Kasih Kita ke dalam Tindakan Nyata

01 Agustus 2006 – 06:02   (Diposting oleh: Editor)

“Kami tidak menyia-nyiakan waktu, walaupun satu menit saja, karena kami berharap apa yang kami lakukan bisa bertahan selamanya.
Yang terpenting adalah mengatasi segala hal yang ada saat ini sebaik mungkin dan berhati-hati dengan apa yang sedang berlangsung saat ini.”
Cheng Yen, pendiri Tzu Chi,
yayasan kemanusiaan yang berpusat di Hualien- Taiwan

Bagaimana mewujudkan kasih sayang dan cinta kita ke dalam suatu tindakan yang berarti bagi sesama yang sedang menderita atau sedang dilanda kesusahan? Yang jelas hal itu membutuhkan kekuatan besar. Dikatakan bahwa kekuatan terbesar di dunia ini adalah kekuatan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain dengan ikhlas, entah dalam bentuk materi, waktu, motivasi atau tenaga.

Wanita yang dianggap sebagai mahluk tidak berdaya ternyata banyak berkiprah dalam misi kemanusiaan. Beberapa diantara mereka adalah Bunda Teresa atau Master Cheng Yen. Kedua wanita tersebut telah melakukan ribuan aktifitas dalam misi kemanusiaan yang menyentuh hati ribuan manusia di seluruh penjuru dunia. Ada baiknya kita belajar dari kedua wanita tersebut tentang bagaimana membuka hati sesering mungkin dan menghiasinya dengan cahaya cinta serta menemukan jati diri kita.

Teresa menegaskan bahwa yang terpenting untuk menolong orang yang sedang tertimpa kemalangan adalah segera melakukan tindakan nyata. Cheng Yen mengungkapkan hal senada ketika diwawancarai di Hualien – Taiwan. “Masyarakat harus aktif ambil bagian untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan. Di rumah sakit yang mengharuskan pasien membayar biaya administrasi terlebih dahulu sebelum mendapatkan pertolongan akan menghabiskan banyak waktu yang sangat berharga untuk memberikan pertolongan pertama,” katanya.

Semakin cepat memberikan bantuan, semakin baik. Teresa mencontohkan sebuah kelaparan yang pada saat itu sedang melanda penduduk di India. Diadakanlah konferensi di kota Bombai untuk membahas langkah-langkah penanggulangan kelaparan tersebut hingga 15 tahun ke depan. Teresa dijadwalkan hadir sebagai undangan istimewa. Tetapi wanita tersebut tersesat sehingga terlambat hadir.

Dengan tergopoh-gopoh Teresa datang ke komplek gedung konferensi tersebut. Tetapi sesaat sebelum memasuki gedung, Teresa melihat seseorang yang sedang sekarat karena kelaparan. Tanpa pikir panjang ia segera membawa orang itu ke kliniknya. Namun nyawa orang itu tak dapat tertolong. Kejadian membuatnya terpukul dan menyeru kepada dunia agar tidak menghabiskan waktu terlalu lama untuk berdiskusi, tetapi segera melakukan tindakan pertolongan yang nyata.

Teresa meminta kita segera mewujudkan cinta kasih kita kepada sesama, bahkan sejak detik ini. Tidak harus dalam jumlah besar, tidak juga terlalu sedikit. Langkah yang bisa kita tempuh misalnya secara disiplin menyisihkan uang lima ratus rupiah per hari. Lima ratus perak mungkin tidak ada arti bagi kita. Tetapi jumlahnya akan sangat besar bila digabungkan dengan ribuan orang lainnya, dan dikumpulkan secara rutin. Komitmen untuk mendermakan lima ratus rupiah saja adalah wujud tindakan nyata atas kasih sayang kita kepada sesama. Bantuan sekecil apa pun nantinya akan sangat berarti bagi ribuan orang yang membutuhkan bantuan, misalnya bagi seorang ibu miskin yang harus membesarkan anak-anaknya sendirian.

Misi kemanusiaan Cheng Yen, dalam sebuah organisasi kemanusiaan bernama Tzu Chi semula hanya didukung oleh 30 orang ibu rumah tangga. Mereka menyisihkan uang belanja setiap hari sebesar 50 sen atau sekitar 0,02 USD (200 rupiah jika nilai 1 USD setara dengan 10.000 rupiah). Kedermawanan Cheng Yen serta ketulusan hatinya menggerakkan puluhan ribuan orang donatur untuk sama-sama berpartisipasi dalam misi kemanusiaan tersebut. Bermula dari uang 200 rupiah, Tzu Chi aktif membantu masyarakat yang ditimpa bencana di seluruh dunia. Mereka mengirimkan bantuan kepada para korban bencana alam di seluruh dunia berupa bantuan pangan, pakaian dan obat-obatan. Tzu Chi juga mengirimkan ribuan relawan profesional untuk memberikan penanganan medis serta membantu masyarakat membangun kembali kehidupan mereka.

Dengan dibantu lebih dari 30.000 relawan profesional, Tzu Chi telah berhasil mengentaskan ribuan masyarakat miskin, memberikan pelayanan kesehatan, mendirikan ratusan rumah sakit, sekolah, pusat penelitian dan pengembangan sosial budaya untuk komunitas lokal di lusinan negara, termasuk di Indonesia. Salah satu bintang di Asia versi majalah Business Week, terbitan bulan Juli 2000 itu menunjukkan bahwa misi kemanusiaan besar dan sangat berarti bermula hanya dari tindakan kedermawanan hati yang sederhana, yaitu beramal 200 rupiah per hari.

Selain itu, Cheng Yen menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di Taiwan. Beberapa kandidat perdana menteri Taiwan bahkan sengaja mengunjunginya untuk mohon doa restu dan dukungan. Tak dapat dipungkiri bahwa popularitas dan pengaruh besar Cheng Yen dikarenakan kedisiplinan serta upayanya yang tulus dan ikhlas dalam misi kemanusiaan.

Begitupun Bunda Teresa, namanya harum di seluruh dunia karena ketulusan hatinya. Ia tidak pernah mengharapkan imbalan apapun atas bantuan yang sudah ia berikan. “Kalau kita melakukan sesuatu bantuan hanya ingin dapat nama atau penghargaan, perbuatan itu tidak akan bertahan lebih dari satu tahun. Hanya mereka yang berbuat untuk nama Tuhan, baru akan melanjutkan selama-lamanya,” katanya. Satu hal yang mesti kita sadari bahwa bantuan sekecil apapun yang dilakukan dengan tulus ikhlas pastilah memberikan dampak positif terhadap diri kita entah sekarang atau nanti.

Perjuangan kedua wanita tersebut dalam misi kemanusiaan juga memberikan satu teladan kepada kita, bahwa semangat kebersamaan untuk memberi merupakan kekuatan yang luar biasa. Suatu ketika Cheng Yen kehabisan dana untuk membangun sebuah rumah sakit. Seorang donatur kaya datang lalu menawarkan bantuan dana untuk menyelesaikan proyek tersebut hingga dapat dioperasikan. Tetapi Cheng Yen menolak tawaran itu. Ia berpendapat bahwa 30 aktifitas memberi akan jauh lebih penting dibandingkan satu aktifitas saja.

Ia ingin setiap proyek untuk misi kemanusiaan, misalnya membangun rumah sakit, sekolah maupun pusat penelitian dan bantuan kemanusiaan lainnya terhadap korban bencana, menjadi sarana bagi banyak orang untuk ikut berpartisipasi dalam memberi. “Percaya pada diri sendiri, bahwa apa yang ingin saya wujudkan adalah murni. Percaya pada orang lain bahwa setiap manusia pasti ada cinta, yang sedang menunggu untuk dibangkitkan,” tegasnya. Dengan keyakinan itu pula, Cheng Yen berhasil menyelesaikan semua proyek kemanusiaan Tzu Chi, termasuk proyek yang paling sulit sekalipun yaitu membangun rumah sakit di beberapa tempat di seluruh dunia yang dilengkapi dengan sarana modern dan tenaga medis profesional.

Beberapa hal yang terungkap, tentang kiprah Master Cheng Yen maupun Bunda Teresa dalam misi kemanusiaan, tak sulit kita ikuti. Langkah-langkah yang mereka tempuh sangat sederhana, tetapi sarat semangat kebersamaan dan ketulusan hati. Tak ada salahnya bila sejak detik ini kita tergerak untuk mengikuti langkah-langkah sederhana kedua wanita mulia itu, sekaligus membuktikan bahwa kitapun mampu memberi arti bagi orang lain.

Telah di baca sebanyak: 3104
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *