Kolom Alumni

Talenta Bukan Mantra

Oleh: Putu Adnyana

Rahasia kesuksessan dalam hidup seseorang adalah siap untuk meraih kesempatan,pada saat kesempatan itu datang.
-Benjamin Disraeli

Kelahiran setiap manusia di muka bumi ini sebenarnya telah melalui sebuah perjuangan berat untuk melawan pesaing yang terdiri atas 36.000 kromosom, saat proses pembuahan yaitu bertemunya sel jantan dan sel telur. Kromosom-kromosom tersebut berlomba untuk menjadi pemenang, sehingga persaingan terjadi menjadi sengit karena dari demikian banyaknya kromosom dan kodratnya hanya satu yang nanti bisa hidup. Selanjutnya menjadi calon janin yang akhirnya lahir kedunia ini menjadi bayi kemudian dewasa dan seterusnya.

Itulah proses kelahiran manusia yang di alami oleh setiap insan di muka bumi ini termasuk kita, juga Anda. Semangat untuk survive sebenarnya bukan hal baru, tetapi telah berawal semenjak kita berada dalam kandungan.Yang terpenting dari proses tersebut bahwa sebetulnya kita adalah seorang juara.

Sesungguhnya kita adalah mahluk luar biasa karena telah mampu mengalahkan pesaing kita yang jumlahnya 36.000 tersebut. Kita memiliki jiwa unggul sehingga siapapun orangnya yang hidup di muka dunia ini adalah berpotensi untuk sukses, tidak peduli apapun pekerjaan yang dilakoni dan di manapun kita berada. Kita berpeluang menjadi orang yang hebat melalui keunggulan yang kita miliki.

Keunggulan tersebut bisa kita raih. Salah satunya karena adanya sebuah talenta dalam diri. Sebelum kita berbicara lebih lanjut, apakah talenta itu?

Talenta sesungguhnya kemampuan khusus yang menonjol yang dimiliki oleh setiap individu. Talenta secara umum juga dikenal sebagai bakat. Bakat atau talenta tersebut bervariasi jenisnya. Ada yang punya bakat mennyanyi, melukis, berbicara di depan umum, kemampuan mempengaruhi orang lain, bercerita, menulis, menari, dan sebagainya.

Salah satu jenis talenta yang akan diangkat dalam tulisan saat ini adalah bakat untuk menguasai bahasa asing. Dalam pengamatan saya sejauh ini, banyak sekali manusia yang memiliki bakat ini, tidak terkecuali di belahan dunia manapun dia berada, apapun latar belakang pendidikan yang dimiliki. Saya sendiri pernah memiliki pengalaman dengan seorang murid yang mampu menguasai bahasa Rusia dengan cepat, padahal bahasa ini tergolong sulit secara tata bahasa, ditambah lagi pengalaman pendidikan bersangkutan yang tidak memadai karena hanya tamatan sekolah menengah pertama (SD) dan tidak memahami dasar bahasa Inggris.

Sungguh luarbiasa, dia mampu menguasai bahasa asing dalam 5 bulan serta mampu berkomunikasi dengan kualitas yang lumayan. Kalau kita mau membandingkan, banyak sekali orang yang sudah belajar bahasa Inggris selama belasan tahun di bangku sekolah, namun kenyataanya tetap tidak mampu berkomunikasi dengan memuaskan. Perbedaan kualitas pencapaian tadi menurut saya salah satunya dikarenakan oleh faktor bakat, disamping ketekunan dan keinginan yang kuat.

Kalau misalnya setiap orang pasti memiliki bakat yang berpeluang mengantarkan kita menjadi manusia unggul, lantas mengapa banyak orang yang tidak berhasil dalam hidupnya, berada dalam garis kemiskinan, bahkan sampai mengemis di jalan agar mampu menghidupi keluarga sendiri? Di manakah masalahnya?

Ternyata masalah yang mendasar adalah mereka tidak mampu menemukan bakat alami yang ada dalam diri mereka. Kenyataan ini terjadi karena beberapa sebab, misalnya:

a. Kurangnya Wawasan
Untuk hidup menjadi lebih sukses dari sisi finansial, seseorang tidak harus bekerja di perusahaan besar, tidak juga harus menjadi seorang pengusaha, atau profesi apa saja yang diketahui di sekitarnya. Lihat saja seorang David Beckham, terkenal dan kaya hanya dari menjadi seorang pemain sepak bola. Atau Tiger Wood yang menjadi kaya hanya karena dia adalah seorang pemain golf. Sedangkan di Indonesia ada Tukul Arwana yang menjadi bintang iklan yang laris hanya berawal dari seorang bintang komedi, dan semakin meroket sejak membawakan acara talk show Empat Mata yang kontroversial tersebut.

Mereka hanyalah contoh kecil dari manusia sukses yang berjalan berdasarkan bakat alami yang ada dalam diri mereka.

Awalnya mungkin secara kebetulan atau terinspirasi oleh profesi orang lain, ataupun sebuah pencarian panjang, namun setelah sadar akan kemampuan yang dipahaminya, lalu berusaha untuk mengeksplorasi lebih jauh serta mengembangkannya serta fokus terhadap apa yang dilakukan.

Benyamin Franklin pernah mengatakan, “menjadi bodoh tidak begitu memalukan apabila dibandingkan dengan tidak memiliki keinginan untuk belajar melakukan sesuatu dengan benar.” Di sekitar kita kegagalan seseorang menganalisa dan memaksimalkan potensi bakat untuk kualitas hidup yang lebih baik terjadi karena kurangnya informasi, peluang-peluang yang bisa diciptakan melalui bakat tersebut.

b. Peranan Orang Tua
Ternyata keluarga dan lingkungannya memiliki peranan penting terhadap perkembangan anak dalam menapak karir dan masa depannya. Banyak sekali terjadi bahwa anak harus menjadi apa yang orang tua mau. Misalnya seorang anak harus menjadi seorang guru karena dia adalah seorang perempuan. Atau anak yang laki harus menjadi seorang polisi karena polisi adalah figur yang disegani. Ada juga yang menyarankan untuk menjadi seorang karyawan bank supaya cepat kaya, dan banyak lagi. Dari contoh-contoh di atas, sesungguhnya untuk menemukan bakat sesungguhnya seorang anak, dibutuhkan kearifan orang tua ataupun orang terdekat untuk membantu mereka mengenali talenta mereka dan membantu mereka untuk mengarahkan serta mengembangkan bakat terbaik mereka, bukannya malah memasungnya.

c. Kurang Adanya Kesempatan
Ini merupakan permasalahan yang klasik yang dialami sebagian orang di negeri ini. Kurangnya kesempatan disebabkan karena letak geografis yang tidak memungkinkan, kendala ekonomi keluarga, serta keterbatasan informasi. Contohnya, bagi sebagian orang yang hidup di pedalaman Papua tentu memiliki kesempatan tidak seluas mereka yang tinggal di Jakarta. Meskipun demikian, kendala-kendala tersebut janganlah dilihat sebagai “blocking mental“ yang justru menghambat kita untuk mencapai sukses.

Kembali ke permasalahan utama, hal yang perlu kita lakukan adalah sedini mungkin untuk mampu mengenali talenta yang kita miliki.

Talenta sesungguhnya terbentuk melalui sebuah proses. Talenta bukan sebuah benda yang bisa langsung bisa dipakai setelah dikenali, karena talenta bukanlah mantra. Dia perlu dieksplorasi dan dikembangkan secara terus menerus untuk menjadikan kualitasnya yang lebih baik. Jadi jangan pernah untuk berbesar hati dan yakin akan sukses hanya karena Anda telah memahami bakat sendiri apabila tanpa pernah untuk mengembangkannya.

Terlepas dari kenyataan bahwa setiap orang memiliki bakat. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki talenta bidang tertentu? Apakah dia bisa berpeluang untuk sukses di bidang yang akan dilakoninya?

Jawabannya bisa. Ya … Anda tidak salah baca karena ternyata ada suatu kekuatan yang bisa menandingi sebuah talenta, yaitu the power of kepepet.

Saya memiliki seorang teman di Bali. Dia dulunya adalah seorang manajer di sebuah perusahaan swasta dengan begaji lumayan besar. Karena suatu hal, kantor tempat dia bekerja ditutup, dan dia di-PHK. Sebagai tulang punggung keluarga, maka menemukan pekerjaan baru secepatnya bukanlah hal yang bisa ditawar, mengingat kewajibannya untuk menghidupi keluarga, membayar biaya sekolah anak-anaknya, ditambah berbagai kredit yang harus dibayar, seperti kredit rumah dan elektronik yang tetap jalan.

Hari berlalu, bulan berjalan, dan dana cadangan keluarga sudah minus. Sementara dia belum juga menemukan pekerjaan. Jadi kita bisa bayangkan bagaimana kondisi psikologinya saat itu.

Usaha mencari pekerjaan sudah dilakukan secara maksimal, namun tidak ketemu satupun yang cocok. Alasannya, tidak punya pengalaman, tidak ada bakat, latarbelakang pendidikan yang beda, tidak pede, pekerjaannya tidak level, dan sebagainya.

Kebetulan tidak jauh dari tepat tinggalnya ada tempat kursus bahasa asing yang sedang membutuhkan guru les. Awalnya kesempatan itu tidak menarik baginya karena dia ragu dan merasa tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang guru, ditambah tidak memiliki pengalaman mengajar sama sekali. Tetapi karena sadar akan tuntutan keuangan keluarga, dia pun memaksakan diri untuk mengambil kesempatan yang ada di depan mata.

Pada hari pertama sebagai guru les, penampilannya terasa kaku, sedikit stress, ada rasa tidak yakin akan kemampuan diri, serta takut di komplin. Tetapi sekali lagi, begitu teringat akan masalahnya pikiran rasionalnya terkalahkan, dan hari demi hari pun dilewatinya disertai komitmen penuh untuk belajar dan mengeksplorasi diri secara kontinyu untuk menjadi seorang profesional.

Tidak dia sangka, usahanya berbuah manis. Banyak pujian dan ungkapan terima kasih yang dia terima dari muridnya. Selain itu, dia juga mendapat banyak side job dan jasa privat. Alhasil, berbekal sedikit pengetahuan ilmu bisnis di tempat bekerja yang dulu, dia pun membuka usaha sendiri. Dan sekarang … usahanya sudah maju, lebih dari sekedar usaha rumah tangga saja.

Pelajaran tadi memberikan pelajaran, bahwa talenta tidak menjamin orang untuk sukses. Sebaliknya tanpa talenta pun orang bisa akan sukses, apabila ada semangat dan kesediaan untuk belajar secara sunguh-sungguh dan terus mengembangkannya. Cara lain adalah menempatkan diri pada posisi kepepet.

Sesungguhnya tidak ada jalan pintas untuk meraih sukses, namun ada jalan yang efektik dan efisien, yaitu melalui kerja cerdas, kerja keras, dan kerja sama. Kerja cerdas dilakukan dengan belajar dari pengalaman orang-orang sukses, kerja keras dengan mempraktekkannya secara konsisten, dan kerja sama dengan senantiasa saling mendukung untuk melakukan kerja cerdas dan kerja keras.

*) Putu Adnyana, alumni Writer Scoolen Workshop Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller Batch VIII. Direktur Russian Centre dan Trinita EDU (Education,Development and Foundation ini dapat dihubungi di adptad@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 1447
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *