Eni Kusuma

Tekun, Pasti Berhasil

Pernah saya menjawab SMS dari seorang pelajar yang bertanya pada saya, bagaimana caranya supaya menjadi seorang penulis. Kata saya (mengadopsi perkataan Lincoln): “Tanyakan pada diri sendiri, jika kamu sudah mengambil keputusan dan bertekad, maka kamu SUDAH memenangkan separuhnya.” Tak heran, Tung Desem Waringin dalam bukunya “Financial Revolution” mengatakan: “Bayangkanlah seolah-olah kamu SUDAH melakukannya, maka alam bawah sadar akan menyimpan memori itu.”

Apakah untuk menjadi seorang penulis itu harus mempunyai banyak buku-buku? Tidak. Saya sendiri hanya pinjam. Koleksi buku-buku saya juga sedikit. Tetapi saya membaca. Apakah harus memiliki waktu luang yang banyak? Tidak. Saya sendiri menyelesaikan buku pertama di sela-sela waktu pekerjaan saya sebagai pembantu rumah tangga. Apakah harus memiliki tingkat intelektual tertentu? Tidak. Kita semua bisa mempelajari. Bahkan bisa mempelajari apa saja. Apakah harus mempunyai komputer atau laptop sendiri? Tidak. Saya sebelumnya tidak punya komputer. Jadi, kita tidak usah merengek minta dibelikan laptop kepada orang tua kita apalagi merengek kepada Negara ketika kita menjadi anggota DPR.

Saya yang pernah membaca kisah tentang Lincoln, Presiden Amerika Serikat yang paling masyur itu, semasa kanak-kanak adalah sangat miskin. Ia harus tidur di atas tempat tidur dari daun-daun kering. Ia seumur hidupnya hanya masuk sekolah satu tahun lamanya, namun akhirnya ia menjadi pengacara. Ia tidak mempunyai buku-buku, ia hanya meminjam dan telah membaca setiap buku yang ada di lingkungan tempat ia tinggal, yang jauhnya 70 kilometer.

Dalam gubuknya ia menyalakan api yang digunakan untuk membaca sekaligus sebagai penerangan. Jika pagi hari datang, ia pergi menunggang kuda 40 hingga 50 kilometer untuk mendengarkan seorang ahli pidato berbicara. Ia masuk menjadi anggota debating club dan perkumpulan sastra, dan melatih diri berbicara di depan umum dengan menceritakan berita-berita hangat. Padahal ia seorang yang pemalu dan rendah diri.

Dari semangat Lincoln, saya pun percaya bahwa kepandaian bisa diraih, jika saya menginginkannya. Jika saya ingin pandai, saya pasti menjadi pandai. Asal saya bertindak untuk meraihnya. Jika saya mendapatkan gambar Lincoln pasti akan saya gantung di dinding kamar saya. Berhubung saya tidak mendapatkannya, sekarang hanya foto saya yang saya pampang di dekat buku-buku saya. Hal ini untuk mengingatkan saya, ketika saya menghadapi banyak masalah. Saya membayangkan saya dulu yang berhasil menghadapi kesulitan-kesulitan, yang tak kenal menyerah dan maju terus.

Selama enam tahun menjadi pembantu rumah tangga di Hongkong, saya bertekun dan terus tekun. Saya ingat betul masa-masa itu. Saya terus mencuci, saya terus mengepel, dan saya pun terus bersabar mendengar omelan-omelan majikan. Sampai akhirnya saya bertekad untuk menjadi pandai. Saya membaca buku pada malam hari dengan penerangan “senter” di bawah selimut. Karena lampu kamar harus dimatikan. Saya mencuci piring dan menyapu sambil menghafal sesuatu. Hampir sama dengan yang dilakukan oleh Lincoln yang ikut debating club dengan menceritakan berita-berita hangat (nyama-nyamain ah, biar tambah pede, hehe). Saya pun ikut milis café de kossta, milis kepenulisan untuk para TKW di Hongkong dan milis penulis bestseller untuk berdebat dan menceritakan berita-berita hangat.

Saya juga pernah ditanya oleh peserta ketika saya berkesempatan memberikan ceramah lepas di pelatihan Manajemen Perum Pegadaian ; “Apakah menulis itu disebabkan oleh bakat?” Jawab saya: “Jika saya percaya menulis itu disebabkan oleh bakat, pasti saya tidak akan berani menulis. Karena saya tahu, saya tidak pernah menulis sebelumnya selain tugas sekolah. Saya juga tidak pernah menulis di mading sekolah. Saya hanya pernah menulis diary. Saya juga tidak ada garis keturunan seorang penulis, jurnalis dan lain-lain. Untunglah saya tidak percaya bahwa menulis itu memerlukan sebuah bakat. Yang saya percaya menulis adalah sebuah tekad dan keinginan serta ketekunan dan semangat untuk terus belajar. Seperti halnya seseorang yang bertekad untuk menjadi kaya, maka ia akan kaya. Dan seseorang yang bertekad untuk menjadi pandai maka ia akan pandai. Demikian juga seseorang yang bertekad untuk menjadi seorang penulis, maka ia akan menjadi apa yang diinginkannya itu. Asalkan sungguh-sungguh menginginkannya dan sungguh-sungguh berjuang untuk itu.

Saya banyak belajar dari guru-guru saya ternyata memang benar bahwa menulis itu membutuhkan ketekunan yang luar biasa. Tidak hanya mereka yang berprofesi sebagai penjual, guru, pegawai, pembicara dan sebagainya. Dan kebanyakan untuk semua pekerjaan memang membutuhkan ketekunan jika ingin berhasil. Dan semua orang sukses yang bercerita tentang kesuksesannya pun semua karena mereka bertekun. Saya menulis buku pertama saya pun karena saya bertekun dan tidak berputus asa. Saya tekun bekerja, tekun belajar, tekun berpikir dan tekun menulis. Demikian juga jika kita bertekun dalam berinvestasi, maka kita akan mendapat hasilnya.

Seperti seorang pembicara yang bertekun, terus melatih kemampuan bicaranya dengan bertekun mengumpulkan bahan-bahan, menganalisanya dan menulis di potongan-potongan kertas juga bertekun mengedit dan terus menerus tekun menyempurnakannya agar menjadi teks pidato yang benar-benar menarik dan menggugah. Demikian juga dengan seorang penulis. Dia harus tekun mengumpulkan bahan, menganalisa dan berpikir serta terus menulis dan terus menyempurnakannya agar menjadi tulisan-tulisan yang menarik dan menggugah.

Jadi tidak berlebihan jika saya katakan “Tekun, Pasti Berhasil” dalam judul diatas. Teruslah tekun menulis, pasti berhasil.

* Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.

Telah di baca sebanyak: 1818
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *