About Us


SELAMAT DATANG DI  PEMBELAJAR .COM

Manusia pembelajar adalah setiap orang (manusia) yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni: pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial seperti: Siapakah aku ini?; Dari mana aku datang?; Kemanakah aku akan pergi?; Apa yang menjadi tanggung jawabku dalam hidup ini?; Kepada siapa aku percaya?; dan kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang “bukan dirinya”.

Andrias Harefa : Menjadi Manusia Pembelajar, Penerbit Buku Kompas, 2000 ; hlm.30-31.

Sejarah Gagasan pembelajar.com
Tanggalnya 17. Bulannya Agustus. Tahunnya 2045. Ya, 17 Agustus 2045. Saat itu, Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-100. Sebuah pesta besar selayaknya diselenggarakan. Ratusan juta rakyat terlibat didalamnya. Seratus tahun merdeka. Sudah menjadi negara bangsa macam apakah Indonesia saat itu? Dimana posisinya di antara bangsa-bangsa? Bagaimana keadaan masyarakatnya? Sudah lebih berkeadilan dan berkemakmurankah? Bagaimana pula watak dan karakter manusia-manusia Indonesia kala itu? Sudah terpuji dan membanggakankah?

Aneh tapi nyata. Saya, seorang anak bangsa yang bukan pejabat, bukan politisi, bukan ekonom, bukan konglomerat, bukan tokoh agama, bukan tokoh budaya, bukan tokoh apapun, juga bukan akademisi kampus, bukan paranormal, bukan selebritas, dan bukan siapa-siapa ini, selalu terganggu dengan frasa dalam perpaduan huruf dan angka berikut ini: INDONESIA 2045. Sejak pertama kali mendengar frasa itu diucapkan dan kemudian beberapa kali muncul dalam tulisan almarhum Romo Mangunwijaya, saya jadi gelisah. Saya terganggu dan gelisah karena ingin berbuat sesuatu. Sesuatu yang saya harapkan berdampak pada keadaan Indonesia di kala merayakan hari kemerdekaannya yang ke-100 nanti. Sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang biasa yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Sesuatu yang tidak perlu menunggu lahirnya manusia-manusia unggul dan insan-insan luar biasa. Sesuatu yang bisa dimulai segera, dalam keterbatasan disana sini, dengan perbaikan berkelanjutan.

Dorongan untuk “berbuat sesuatu” itu menemukan momentumnya di tahun 1998. Krisis multi-dimensi membuat saya berasumsi bahwa sebagai bangsa Indonesia kita ini sangat lamban belajar (too slow), sangat sedikit belajar (too litle), dan sangat terlambat belajarnya (too late). Karena itu, ketika krisis melanda negeri kita, langsung nampak begitu banyak hal yang harus dilakukan, karena terlalu sedikit hal baik yang sudah dilakukan (so much to do, so little done).

Untuk mendorong proses-proses pembelajaran dalam masyarakat, saya mencari cara untuk meningkatkan kontribusi dari aktivitas sebagai trainerpreneur (micropreneur di bidang pelatihan) dan mulai melakukan aktivitas sebagai writerpreneur (micropreneur dibidang penulisan). September 1998 saya mulai menulis trilogi pertama, yakni Sukses Tanpa Gelar; Berguru Pada Matahari; dan Menerobos Badai Krisis. Ketiganya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan mendapatkan sambutan yang menggembirakan dari masyarakat.

Lalu, September 2000, karya tulis saya yang ke-14 beredar di masyakarat. Buku bertajuk Menjadi Manusia Pembelajar (Penerbit Buku Kompas, 2000) itu mendapat sambutan luar biasa dan mengalami cetak ulang 3-4 kali dalam tiga bulan pertama peredarannya. Patut diduga publisitas buku itu telah membuat kata “pembelajar” dan “pembelajaran”, yang semula sangat jarang dipergunakan, tiba-tiba menjadi kata yang begitu sering muncul dan dipakai berbagai pihak. Hal mana mengingatkan saya atas komentar kawan Agus Santosa bahwa, “Andrias Harefa ingin membangun ‘kasta’ manusia pembelajar”.

Respons lain atas buku itu adalah tawaran rekan Ang Tek Khun dan Hendri Bun dari Yogyakarta untuk membuatkan situs pembelajar.com sebagai “tindak lanjut” dari buku tersebut. Lewat sebuah situs sederhana ini diharapkan komunitas pembelajar mahardika (sebut saja begitu) dapat saling asih, asah, asuh.

Karena pembelajar.com diluncurkan pertama kali 14 Februari 2001, bersamaan dengan Valentine Day, maka kami maknai situs ini sebagai persembahan tanda cinta kepada bangsa Indonesia. Dengan berbagai variasinya, dalam situs ini kami harapkan akan nampak orang-orang yang menyampaikan gagasan karena mencintai Indonesia, dalam arti yang seluas-luasnya (orang-orangnya, alamnya, budayanya, dan semua hal positif lainnya). Dengan berbagai cara yang positif, siapa saja yang merasa mencintai Indonesia, kami beri kesempatan berbagi gagasan tertulis lewat situs ini.

Berbagi gagasan? Ya. Situs pembelajar.com telah menjadi ajang sumbangsih pemikiran dan gagasan bagi mereka yang mau menghibahkan atau menyedekahkan pengetahuannya lewat tulisan. Saat ini kolomnis tetap yang masih aktif menulis (alfabet): Adi W. Gunawan, Agoeng Widyatmoko, Andrew Ho, Andrias Harefa, Andrie Wongso, Edy Zaqeus, Eni Kusuma, Her Suharyanto, Pitoyo Amrih, Rab Adi Broto. Sementara sejumlah nama yang pernah menjadi kolomnis tetap, antara lain (alfabet): Agus Santosa, Ang Tek Khun, Benyamin Harefa, Fotarisman Zalukhu, Heru K. Wibawa, Jansen H. Sinamo, Jennie S. Bev, Khoe Yao Tung, Paulus Winarto, Ponijan Liaw, dan Wandi S. Brata. Bukan mustahil diantara para mantan kolomnis tetap ini akan muncul lagi sebagai kolomnis tetap nantinya.

Para kontributor kolomnis tidak tetap, antara lain (alfabet): Abdul Muid Badrun, Ade Asep Syarifuddin, Adjie, Afra Mayriani, Agustinus Hartono, Ahmad Abusali, Alpyanto, Anang Haryadi, Ari Juliano Gema, Bonari Nabonenar, Didik Darmanto, Dodi Mawardi, Duddy Indarto, Eddy Gunawan, Efvy Zamidra Zam, Eko Jaya Saputra, Fani Kartikasari, Gagan Gartika, Goenardjoadi Goenawan, Hanna Fransisca, Hartati Nurwidjaya, Ignatius Muk Kuang, Indra Cahya, J. I. Michell Suharli, Johanes Koraag, Joni Liu, Joshua W. Utomo, Joycelina, Krisnawan Putra, Kristopher David, Lamser Aritonang, Leonarda Katarina Erika Untung, Lina Hasyim, M. Alidin, Mario Einstain, Mayasari Oey, Men Jung, Mugi Subagyo, Muhammad Alidin, Nilna Iqbal, Ollie, Parlindungan Marpaung, Risfan Munir, Riyanto B. Suwito, Roni Djamaloeddin, Rudy Lim, Rusdin S. Rauf, Soesilowati, Sofa Nurdiyanti, Stephen Barnabas, Suryanto Wijaya, Suyanto Suyadi, Syahril Syam , Tan Bun Heng, Undang A. Halim, Vina Tan, Waidi, Wu Zhen Zhen, Yeni Lefrina, Yulianus Patandianan, dan Zhen Zhen.

Nah, bagi Anda yang ingin menjadi kolomnis silahkan membaca Tentang Cara Menjadi Kolomnis. Dan bagi Anda yang ingin menikmati aneka gagasan yang tersedia, kami ucapkan selamat menikmati!

Tetaplah belajar!

Andrias Harefa
Founder and Owner


Tentang Cara Menjadi Kolomnis pembelajar.com

Situs pembelajar.com ini terbuka untuk siapa saja yang ingin berkontribusi sebagai kolomnis tetap, kolomnis tidak tetap, dan reporter atau pewawancara sukarela. Secara umum yang perlu diperhatikan adalah:
(1) Sepakat dengan visi-misi-strategi pembelajar.com;
(2) Memiliki gagasan yang ingin ditawarkan kepada publik;
(3) Berkemampuan menuangkan ide dalam berbagai bentuk tulisan;
(4) Bersedia menulis secara rutin;
(5) Mau secara sukarela menyedekahkan atau menghibahkan tulisan tersebut.

Tentu saja naskah-naskah yang masuk masih akan diseleksi seperlunya dalam kelompok berikut:
(1) Naskah yang bisa langsung dimuat dengan suntingan minimum;
(2) Naskah yang akan dimuat setelah disunting editor pembelajar.com;
(3) Naskah yang akan dikirim ulang untuk diperbaiki dulu oleh penulisnya.

Kiriman naskah dapat dialamatkan ke: bun.hendri@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 4243
Top