Kolom Alumni

Terjebak …


Oleh: Maria Saumi

Pernahkah Anda “merasa terjebak?” Merasa terjebak dalam definisi apapun. Terjebak macet, terjebak utang, terjebak rutinitas sehari-hari, terjebak dalam kemiskinan, terjebak dalam profesi yang tidak dicintai, terjebak lift, terjebak dalam kerusuhan massa, terjebak dalam hubungan yang tidak jelas, terjebak dalam keluarga yang brokenhome, terjebak dalam kebuntuan ide, terjebak dalam diskusi yang tidak diinginkan dan terjebak-terjebak lainnya. Menganggap kondisi merasa terjebak tersebut dan menggulirkannya menjadi suatu bencana.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-4 terbitan Balai Pustaka, terjebak berarti kena jebak, kena perangkap, masuk ke tempat yang tidak menyenangkan. Sedangkan bencana adalah sesuatu yang menyebabkan/menimbulkan kesulitan, kesusahan, kerugian, atau penderitaan. Hal-hal tersebut tentu saja semua orang mengalaminya. Saya mengakui termasuk orang yang merasa dengan secara sadar dan tidak sadar sering mengalami merasa terjebak, sehingga perasaan tersebut secara berlebihan dirasakan sebagai suatu bencana.

Konsekuensi dari berhentinya sementara pak Supir yang bekerja di rumah dan ketidakcakapan saya dalam mengendarai kendaraan. Pagi itu saya memakai bluebird, si burung biru,t aksi favorit saya. Prioritas atas kenyamanan, keamanan dan tepat waktu, menjadi andalan dalam memilihnya. Tetapi tidak pagi itu. Entah mengapa taksi kesayangan saya tersebut telat hingga lebih dari satu jam dari order time yang saya minta via telepon. Ketelatannya tentu saja saya maklumi, karena alasan yang pasti semua orang di Jakarta paham. Macet. Mau bagaimana lagi?

Baru saja taksi yang saya tumpangi itu keluar melaju dari kompleks perumahan saya tinggal menuju jalan raya, sudah ada yang menahannya. Berjejal-jejal kendaraan: mobil, motor, truk, angkot, metromini bahkan sepeda, semua jadi satu membebani dan menyumbat sepanjang jalan itu. Tampak di pertigaan jalan Ulujami-Cipulir, pagi itu dihebohkan oleh adanya seorang wanita separuh baya, dengan baju compang-camping tak karuan, dengan tenangnya tak mengacuhkan kondisi di luar dirinya, duduk bersila di pertigaan jalan Ulujami-Cipulir, jalan yang terkenal akan kemacetan lalulintasnya itu. Di pertigaan jalan tersebut terlihat bahwa wanita tersebut mungkin agak kurang waras (kalau waras,tidak mungkin duduk tenang dipertigaan jalan raya kan?). Aksi nekatnya itu menyebabkan kemacetan luarbiasa pagi itu. Saya sudah menduga, pasti sudah banyak umpatan dan cercaan bagi pengguna jalan raya pagi itu untuk kondisi tersebut. Kondisi yang melelahkan secara fisik dan emosional. Tidak terkecuali saya. Terjebak macet judulnya.

Ketika mendekati pertigaan, supir taksi tersebut mencoba untuk memberikan ide kepada dua orang “polisi gopek”. “Polisi-polisi gopek” yang niat tadinya mungkin menjaga kelancaran lalulintas di jalan itu, tetapi yang sering terjadi malah sebaliknya, menambah kemacetan yang ada. Saya hanya berpikir di mana para polisi “sungguhan” saat itu.

“Mas, coba diangkat tuh si ibu, jangan didiemin aja …” usulnya si supir taksi.
“Lo aja yang kerjain,nih gua kasih dua rebu!!!” lelaki itu menjawab dengan sangat ketus.

Saya dan si supir taksi tersebut awalnya heran, lalu kemudian saling tersenyum menunujukkan kepahaman atas posisi masing-masing. Pastinya kedua orang tersebut telah berusaha, tetapi mungkin si wanita tersebut malah mengamuk luar biasa hingga tidak ada lagi orang yang dapat mengusiknya, demikian dugaan saya. Sekali lagi itu hanya dugaan saya saja saat itu.

Kejengkelan dan merasa terjebak di pagi hari itu, ditambah lagi saya teringat harus memimpin “morning briefing” bagi Account Executives saya di kantor, dan juga harus mengeksekusi posisi client-client saya di market membuat pikiran saya “overloaded”. Saya jadi tidak peduli dengan kondisi di luar taksi. Saya tenggelam dengan dunia pikiran saya. Dalam perjalanan, saya pun disibukkan dengan dering telepon order taker saya yang menelpon dari kantor. Dia membahas tentang kejatuhan indeks Dowjones Amerika tadi malam. Kejatuhan tersebut berimbas pada kejatuhan indeks bursa regional Asia pada khususnya pagi itu. Kejatuhan yang disebabkan oleh adanya peningkatan jumlah pengangguran yang sangat significant di negeri Adikuasa itu akibat krisis finansial, banyak para pekerja yang dirumahkan karena banyak perusahaan raksasa yang gulung tikar, para investor jadi gamang berinvestasi. Kejatuhan indeks bursa Amerika itu ternyata berimbas juga pada jatuhnya indeks saham sejumlah bursa regional Asia. Termasuk Indonesia.

Melihat kondisi kemacetan yang sangat luarbiasa di pagi hari itu ternyata membuat supir taksi itu berinisiatif. Dia mengontak kantor pusatnya melalui seperangkat alat yang berada diatas dashboard taksi tersebut, Monitoring Data Terminal (MDT). Dia melaporkan tentang kondisi yang sedang terjadi saat itu. Saya merasa lega, saya merasa “kewajiban” saya melakukan hal yang sama sudah “terwakili”.

“Ibu, maaf tadi nunggunya lama ya, saya telat karena pulang ke rumah, masak dulu sebentar,” si supir taksi mencoba membuka percakapan. Sudah terlanjur telat, tetapi apa daya saya pun butuh, jadi mau bagaimana lagi?

“Oh ya ngak apa-apa pak” jawab saya basa-basi. Saya merasa tidak perlu untuk menanyakan kenapa hal itu bisa terjadi. Saya tahu saya akan berada dalam “pusaran” percakapan basa-basi, chit-chat seperti biasanya. Lagipula pikiran saya sudah melayang-layang, entah berada di mana. Sungguh, saya tidak memerlukan chit-chat pada saat-saat seperti ini.

“Emangnya kenapa pak, kok Bapak masak dan memangnya istri Bapak kemana?” Akhirnya pertanyaan yang juga sebagai respon saya inilah (saya juga heran mengapa meresponnya) yang akhirnya membuka percakapan tersebut mengalir dan terus mengalir. Dia bercerita bahwa istrinya sudah setahun meninggalkan dia dan keempat anaknya yang masih kecil. Balik ke kampung halamannya. Istrinya diduga meninggalkannya karena masalah ekonomi dan profesinya yang sekarang sebagai supir taksi. Istri si supir tersebut rupanya gengsi dengan profesi suaminya. Tambahan lagi dia bercerita, si istrinya tersebut lumayan cantik sehingga sepertinya dengan mudahnya mendapatkan PIL, Pria Idaman Lain. Istrinya pernah meminta cerai kepada dirinya. Padahal dia masih sangat mencintainya. Dia juga bercerita sampai kapanpun tidak mau menceraikan istrinya, demi anak-anak.

Dia juga menceritakan keempat anaknya yang cantik-cantik seperti ibunya itu lebih akrab dan dekat dengan dirinya. Hal itu menyebabkan anak-anaknya tidak terlalu merasa kehilangan atas kepergian istrinya tersebut. Dia juga rela mencari uang tambahan untuk anak-anaknya les bahasa inggris, yang bayarannya dirasa terjangkau olehnya. Dia juga membanggakan prestasi bekerjanya di perusahaan taksi ternama itu. Perangkat MDT itu menurutnya didapat dari lima bulan pertama dia bekerja sebagai supir taksi. Hanya supir-supir yang berprestasi saja yang disupport oleh perusahaan taksi tersebut .

“Tidak semua supir taksi lho diberikan fasilitas ini. Habis harganya mahal … ini harganya kira-kira sekitar Rp 5-juta-an lho Bu … ” bangganya.

Saya pun jadi lebih terharu lagi karena sebenarnya dia adalah lulusan S1 dari salah satu Universitas Swasta di Jakarta. Dahulu dia bekerja sebagai konsultan di perusahaan jasa dan mencari tambahan sebagai calo tanah hingga ekonomi rumahtangganya dapat disebut lumayan. Lumayan untuk hidup di Jakarta. Dia juga bercerita asal muasal menjadi supir taksi. “Lumayanlah Bu, yang penting nggak nganggur, dan dapur terus ngepul … terlebih lagi menjadi supir taksi kan pekerjaan yang halal kan Bu?” ucapnya sambil berfilosofi. Saya pun menganggukkan kepala saya tanda salut dan persetujuan.

Dalam perjalanan menuju kantor di pagi itu saya berkesimpulan bahwa apabila kita menganggap setiap kesulitan sebagai suatu bencana, maka kita akan kehilangan perspektif. Sikap menganggap sesuatu sebagai kesulitan dan menggulirkannya menjadi bencana, ternyata secara psikologis dan fisiologis akan menekan fungsi-fungsi kekebalan tubuh Anda. Tubuh Anda akan meresponnya dengan melepas zat-zat kimia yang efeknya dapat menurunkan kinerja. Perasaan yang muncul seperti adanya perasaan cemas, gugup, marah, kesal, jengkel, frustasi, dan lain sebagainya. Zat-zat kimia yang dalam bentuk neurotransmitter, yang dikeluarkan dengan kadar yang tidak sehat oleh tubuh. Hal tersebut tentu saja dapat mempengaruhi stamina Anda. Mengenai stamina tentunya akan berkolerasi lagi dengan prestasi kerja.

Jika saja, saya terus menganggap perjalanan saya pagi hari itu menuju kantor dengan segala hambatan-hambatanya dan terus menggerutu. Jika saja saya terus menerus merasa terjebak, dan jika saja pagi itu saya merasa dan menganggap sebagai “pagi bencana”, merasa terjebak dengan ketidakberdayaan diri atas keterlambatan si supir taksi, merasa terjebak dengan kemacetan luarbiasa di jalan raya akibat seorang wanita yang kurang waras. Merasa terjebak dengan kesibukan rutinitas profesi. Merasa terjebak dengan situasi yang tidak terlalu diinginkan (komunikasi sepanjang perjalanan dengan si supir taksi yang pada akhirnya menjadi ajang “curhat” bagi si supir taksi tersebut kepada saya). Maka hilanglah perspektif saya.

Menurut para ahli psikologi kognitif, di antara serangkaian luas respon-respon terhadap kesulitan, satu respon yang bisa sangat melumpuhkan adalah menganggap sesuatu sebagai bencana. Menganggap sesuatu sebagai bencana seringkali mencakup merenungi peristiwa-peristiwa yang buruk secara destruktif.

Kondisi pagi hari itu ya … seperti itu, tidak berubah. Satu-satunya yang harus berubah adalah respon saya terhadap kondisi di pagi hari itu. Perspektif saya yang secara sadar menganggap peristiwa-peristiwa yang menimpa diri saya pagi hari itu adalah saya terjebak dan menganggap itu adalah suatu bencana. Lalu berubah secara perlahan-lahan menjadi suatu perspektif baru yang akarnya dari “perenungan dalam yang tidak disengaja”, atas peristiwa itu juga, peristiwa yang sama.

Dari semua sifat yang bisa kita pelajari,tidak ada watak yang lebih bermanfaat,lebih penting bagi kelangsungan hidup, dan lebih besar kemungkinannya untuk memperbaki mutu kehidupan daripada kemampuan untuk mengubah kesulitan menjadi tantangan yang menyenangkan–Mihalyi Csikszentmihaly.

Dan kutipan kalimat-kalimat emas tersebut berdenting perlahan, merayap dan menyentuh “saya”. Mengiringi ayunan langkah kaki saya, menyongsong dengan semangat, rutinitas saya di kantor. Akhirnya, siang … sore … dan malam saya pada hari itu, terasa ”penuh”, karena sangat cukup “terbekali”oleh “pagi hari-NYA”.

* Maria Saumi,S.Si. Lahir di Jakarta 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia,tahun 2000. Maria bekerja di PT.Sentratama Investor Berjangka. Jakarta. Sebagai praktisi di bidang investasi dengan spesialisasi future trading investment. Maria dapat dihubungi di mariasaumi@yahoo.com. (021-99111527 dan 087885299563).

Telah di baca sebanyak: 1602
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *