Her Suharyanto

Teror Ekonomi – Indikator Palsu IHSG


Pernahkah Anda menyaksikan film di mana banyak orang terbirit-birit ditodong perampok? Film tersebut ternyata drama komedi. Si penodong adalah seorang ayah yang kepepet karena anaknya sakit, dan senjata yang digunakan adalah pistol kosong tanpa peluru. Komedi itu sedang terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Terorisnya adalah bursa saham, pistol kosongnya adalah indeks harga, korbannya adalah investor yang tak pernah berpikir soal pistol kosong, penontonnya adalah kita semua yang tegang karena, seperti umumnya penonton yang “baik”, mengidentifikasikan diri sebagai korban.

Teror itu datang ketika indeks-indeks harga saham di berbagai bursa, praktis di seluruh muka bumi ini, berjatuhan. Kolaps masal itu terjadi karena indeks saham-saham unggulan di altar bursa saham dunia, New York Stock Exchange, terjun bebas. Ada banyak penjelasan yang cukup masuk akal mengapa indeks Dow Jones Industrial Average terpuruk, tapi sulit mencari penjelasan yang sama terkait dengan indeks di bursa-bursa lain, kecuali karena alasan panik dan takut — efek psikologis utama orang-orang yang terteror. Di Indonesia kondisinya sama saja. Indeks-indeks bursa utama dunia menjadi teror tersendiri bagi sebagian investor, yang kemudian melakukan panic selling yang membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menukik tajam, dan teror yang lebih massif pun terjadi.

Indeks dibuat untuk dijadikan indikator pergerakan harga saham di satu bursa efek. Tetapi orang sering tak lagi membacanya sebagai sekadar indikator harga, tetapi sebagai indikator bursa. Sekilas tidak ada masalah di sana. Tetapi pergeseran tersebut bukan hanya secara teori tidak benar melainkan juga berbahaya. Sesuai dengan namanya, indeks (khususnya IHSG) hanya menjadi indikator harga, padahal secara teori bursa tidak bisa hanya dilihat dari sisi harganya, karena di sana masih ada banyak variabel lain seperti investor (siapa saja mereka dan berapa jumlahnya) serta nilai dan volume transaksi.

Potensi penyesesatan indeks (mari kita spesifikkan ke IHSG) bisa dilihat dengan contoh hipotetis ekstrim berikut. Karena mempunyai nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, saham Telkom memiliki kontribusi terbesar terhadap IHSG. Artinya setiap pergerakan harga saham Telkom besar sekali perannya terhadap perubahan IHSG. Sepanjang hari ini, misalnya Senin, saham tersebut sangat aktif diperdagangkan, melibatkan banyak investor dalam dan luar negeri, dengan volume transaksi yang sangat besar pula. Katakan saja sepanjang hari itu harga saham bergerak pada rentang Rp 8.000 – Rp8.200. Kalau sampai penutupan pasar terus bergerak seperti itu, dan harga-harga saham lain juga kurang lebih demikian, maka IHSG hari itu akan naik atau turun, katakan saja sekitar 1%-2%. Tetapi apa yang akan terjadi kalau sedetik sebelum penutupan ada satu transaksi super kecil oleh investor iseng, misalnya satu lot, dengan harga Rp10.000, dan itu menjadi transaksi terakhir hari itu? Tak pelak lagi, IHSG hari itu bisa melejit di atas 10%. Sebaliknya kalau ada yang melakukan hal yang sama pada harga Rp 6.000, maka IHSG berpotensi jatuh di atas 10%. Intinya, secara teori, (1) harga saham satu perusahaan bisa digerakkan oleh pemicu kecil, dan (2), pergerakan harga satu saham bisa menggerakkan indeks secara dramatis.

Mungkin Anda mengatakan itu contoh konyol yang tidak mungkin terjadi. Tak apa, karena bukan contohnya yang penting, melainkan logika di baliknya. Yang lebih mungkin begini. Hari ini investor-investor besar memilih parkir, karena pasar sedang tidak menentu. Tapi pasar sibuk luar biasa oleh investor kecil yang panik. Coba jual di angka Rp8.000 nggak laku, maka dia obral, di angka Rp7.500. Tak lama kemudian harga segitu sudah tidak laku, maka mulai ditawarkan di bawahnya lagi dan seterusnya. Mengapa begitu? Karena orang panik, kemudian melakukan apa yang namanya cut loss (daripada kerugiannya berdarah-darah).

Hal seperti ini bukan hanya benar secara teori, tetapi itulah yang terjadi paling tidak di Bursa Efek Indonesia. Pada pekan kerontokan indeks (5-8 Oktober), volume dan nilai transaksi di BEJ sangat kecil dibanding biasanya. Pada tanggal 7 Oktober misalnya, nilai transaksi hanya sekitar Rp2 triliun, padahal pada 7 September mencapai Rp8 triliun. Bahkan pada 8 Oktober, nilai transaksi di BEI hanya dalam hitungan ratusan miliar saja.
Yang mengerikan adalah bahwa sekecil apa pun nilai transaksinya, sesedikit apa pun yang melakukan transaksi, faktanya hal itulah yang membuat indeks harga saham terjungkal. Sialnya lagi, terjungkalnya indeks membuat semua orang seperti terteror bahwa ekonomi berada dalam bencana. Padahal (1) membaca indeks sebagai satu-satunya indikator sudah tidak tidak tepat, di samping itu (2) faktanya indeks jeblok lebih karena faktor psikologi massa.

Jadi ekonomi Indonesia baik-baik saja? Bursa kita baik-baik saja? Bukan itu soalnya. Soalnya adalah, marilah kita bersikap lebih proporsional dalam menyikapi keadaan. Yang de facto jeblok saat ini adalah ekonomi Amerika. Pengaruh langsung pada Indonesia adalah kemungkinan turunnya ekspor Indonesia ke negeri itu. Ekspor ke Eropa juga mungkin akan berkurang, karena Eropa sangat terpukul oleh krisis ekonomi di Amerika, karena ada hubungan yang lebih langsung terkait dengan saling-silang modal di kedua benua. Jadi, akan terkena pengaruh langsung adalah perusahaan-perusahaan Indonesia yang mempunyai ekspor ke Amerika atau ke Eropa. Tetapi jangan lupa bahwa Eropa Timur, Timur Tengah, Sub Sahara dan Amerika Latin relatif terisolasi dari krisis ini, sehingga ekspor ke kawasan itu masih akan bertahan dan bisa ditingkatkan.

Kedua, tidak semua produk ekspor Indonesia diekspor ke Amerika atau Eropa. Ada begitu banyak produk, terutama komoditas primer (belum diolah), yang pasar ekspor utamanya adalah justru negara-negara Asia, Eropa Timur, Afrika atau Amerika Latin. Sementara itu krisis ini sendiri “hanya sekadar” mengurangi ekspor ke Amerika dan Eropa. Jadi, ekspor tetap akan jalan, walaupun pertumbuhannya (bukan ekspornya) akan menurun (slowdown).

Alasan ketiga untuk lebih proporsional adalah bahwa pasar dalam negeri Indonesia luar biasa besarnya, hanya dikalahkan oleh Cina, India dan Amerika Serikat. Artinya, sejauh pemerintah dan Bank Indonesia mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan, pasar dalam negeri akan menjadi peredam kejut (shock-breaker) yang cukup efektif. Modal itu itu ada. Total dana masyarakat dalam sistem perbankan kita lebih dari seribu triliun rupiah. Sementara itu dana nganggur di Bank Indonesia dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia jumlahnya lebih dari seratus triliun. Hanya tinggal pilihan Bank Indonesia untuk mempermudah kredit (bunga rendah) atau mempersulit kredit (bunga tinggi). [Pilihannya “sederhana”, kalau bunga rendah memang ada bahaya inflasi, tapi ekonomi jalan. Sementara kalau bunga tinggi inflasi memang rendah, tapi ekonomi mandek.]

Jadi apa poinnya? Sederhana saja: tak usah terlalu panik. Memang ada persoalan, tapi tak sedahsyat yang kita bayangkan. Memang ada teroris, dan teroris itu membawa pistol. Tapi saya optimis itu pistol kosong, dan yang lebih pasti teroris itu tak membawa bom atau senapan mesin. Dan perlu diingat, teroris mencatat sukses pertama tepat ketika kita mulai merasa takut. (Her Suharyanto, www.jurutulis.com)

Telah di baca sebanyak: 1248
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *