The Power of Action: Melawan Rintangan, Menaklukan Hambatan (Local Wisdom 6)

Oleh: Agung Praptapa

Anda menginginkan sesuatu tetapi belum terwujud? Saya yakin banyak dari kita mengalami hal ini. Banyak dari kita menginginkan sesuatu tetapi belum juga didapatkan. Mari kita telusuri mengapa apa yang kita inginkan belum juga kita dapatkan? Tentunya banyak sekali alasan. Tetapi coba kita amati dengan cermat. Ternyata hampir semua yang kita inginkan tersebut belum juga kita dapatkan karena kita hanya “ingin”, tetapi tidak pernah bertindak sama sekali untuk mendapatkan yang kita mau. Think only, talk only, but NO ACTION! Mengapa penyakit NO ACTION ini hinggap dibanyak orang? Mari kita telusuri satu persatu.
Terdapat beberapa alasan mengapa orang memilih “no action”. Alasan pertama adalah karena mereka tidak bisa melihat pentingnya dan kemendesakan dari apa yang kita inginkan tersebut. Tidak ada sense of urgency. Kalau realitanya apa yang kita inginkan tersebut memang tidak penting, tidak apa-apa kalau hal tersebut tidak terlaksana. Toh hanya sesuatu yang tidak penting. It’s still all right. Tetapi masalahnya banyak hal yang sebetulnya penting (urgent) tetapi kita tidak menyadari kalau hal tersebut adalah penting. Pada kondisi ini sudah muncul adanya aspek kerugian (atau mungkin kecerobohan, bahkan kebodohan), karena kita tidak berhasil menempatkan sesuatu yang “urgent” pada posisi “urgent” pula.

Alasan kedua mengapa orang memilih “no action” adalah aspek kemalasan. Disini orang sudah menyadari bahwa apa yang mereka inginkan tersebut sebetulnya adalah penting, tetapi mereka tetap memilih tidak melakukan “action” karena alasan sederhana, yaitu malas. Kemalasan ini sering dimanipulasi dengan alasan “mendahulukan yang lain yang lebih penting”. Padahal yang sebetulnya terjadi adalah kita memilih untuk “menunda” hal yang penting tersebut karena hati kecil kita memang memilih “no action”. Mengapa demikian? Karena malas.

Takut pada kegagalan juga merupakan alasan mengapa orang “no action”. Mereka takut pada rintangan dan tantangan. Mereka berasumsi bahwa dari pada menghadapi kesulitan dan gagal menghadapi rintangan dan tantangan yang ada di depan lebih baik tidak bertindak. Jadi mereka kalah sebelum berperang!

Alasan keempat mengapa orang “no action” adalah karena dalam perhitungannya hal tersebut lebih mulia dari pada melakukan “action”. Hal ini terutama pada saat seseorang akan melakukan hal-hal yang bersifat negatif, seperti mencuri, menyakiti, dan berbuat kejahatan. Di sini manfaat dari “no action” dipandang lebih besar dibanding dengan akibat yang akan muncul apabila kita melakukan “action” pada hal tersebut. Pada kondisi seperti inilah “no action” tepat untuk dilakukan.

Jadi bisa dikatakan bahwa kebanyakan orang tidak segera melakukan “action” karena kurang cerdas, karena malas, dan karena kalah sebelum bertanding. Kalau alasan kurang cerdas tidak bisa kita salahkan karena hal tersebut sudah dari sananya begitu (given), kemudian alasan malas merupakan pilihan yang merupakan hak seseorang untuk mendapatkan kenikmatan dalam bentuk lain, maka kalah sebelum bertanding merupakan alasan yang patut disayangkan dan bahkan harus dilawan. Kalah sebelum bertanding merupakan musuh utama bagi keberhasilan di bidang apa saja. Banyak sekali kegagalan yang ternyata disebabkan karena belum mencoba ataupun berhenti mencoba. Belum mencoba sudah bilang tidak bisa. Sudah mencoba, begitu ada rintangan dan tantangan kemudian berhenti mencoba.

Untuk itulah maka para leluhur yang arif dan bijak di tanah jawa selalu menegaskan untuk “rawe-rawe rantas, malang-malang putung”, yang berarti “lawan semua rintangan dan taklukkan semua halangan”. Petuah tersebut sebenarnya adalah untuk menegaskan kepada kita bahwa rintangan dan halangan merupakan sesuatu yang natural, yang pasti ada, dimanapun, kapanpun. Untuk itu maka kita harus pandai-pandai menempatkan diri pada saat kita melihat dan mengalami adanya rintangan dan halangan. Lawanlah rintangan, taklukkan halangan!

Melawan rintangan dan menaklukkan halangan bukanlah sekedar kata-kata motivasi. Pada kondisi tertentu hal ini wajib dilakukan, yaitu pada saat kita melakukan sesuatu yang luhur yang sangat penting bagi kehidupan kita. Seorang mahasiswa yang berjuang untuk lulus sarjana demi masa depannya dan juga demi kehormatan keluarganya harus menempatkan rawe-rawe rantas malang-malang putung sebagai sesuatu yang wajib. Apalagi kalau mahasiswa tersebut telah berhasil menerjemahkan dengan cerdas arti kesarjanaan bagi hidupnya, bagi keluarganya, masyarakat, dan bangsanya. Kesarjanaan bukanlah urusan pribadi karena menyangkut keluarga, bangsa dan negara. Kesarjanaan berarti menambah SDM cerdas di negeri ini, yang membantu pengentasan kemiskinan, yang membangkitkan optimisme keluarga atas masa depan anak-anaknya. Seorang sarjana akan mampu membangun negeri dengan kepandaian dan ketrampilannya sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang siap bersaing, yang akhirnya bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia. Kalau mahasiswa telah berhasil menerjemahkan arti kesarjanaan menjadi hal mulia seperti itu maka rawe-rawe rantas malang-malang putung hukumnya wajib. Gilas semua hambatan dan tantangan, dan jadilah pemenang!

Rawe-rawe rantang malang-malang putung adalah wajib saat kita melawan kebatilan dan kejahatan. Kebatilan dan kejahatan akan terang-terangan memberikan rintangan, halangan, dan bahkan perlawanan kepada kebaikan. Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain. Harus rawe-rawe rantas malang-malang putung. Di sini kita harus menempatkan diri pada point of no return, titik dimana kita tidak boleh mundur ataupun berbalik arah. Apapun alasannya, kita harus ACTION, lawan rintangan, taklukan halangan, menangkan pertempuran!

Pesan penting dari rawe-rawe rantas malang-malang putung adalah kita jangan ragu-ragu untuk melakukan ACTION. Satu action akan memberikan kekuatan pada action lain. The more you make actions, the more you make another actions, and the more you get results. Inilah yang disebut dengan the power of action. Rintangan dan halangan tidak mungkin kita hindari. Akan selalu ada kapan pun dan dimana pun. Maka hadapilah. Do action, rawe-rawe rantas malang-malang putung! Lawan rintangan, taklukan halangan, dan menangkan pertempuran!

* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 1849

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Top