Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaNews FeedTraining Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaComments Subscribe to Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaSitemap

The Power of Kepepet

January 30, 2009 by  
Filed under Agoeng Widyatmoko


Tomi adalah seorang pegawai kantoran yang sedang bernasib apes. Kantornya yang hampir bangkrut melakukan rasionalisasi pegawai. Ia ikut terkena pemutusan hubungan kerja. Padahal, ia merasa di perusahaan itu sudah sangat nyaman. Apa daya. Ia harus jadi pengangguran lagi. Ia pun tak tahu harus ke mana mencari pekerjaan. Sebab, ia hanya lulusan SMA. Yang sarjana saja susah cari pekerjaan, apalagi dirinya yang hanya sekolah SMA, begitu pikirnya.

Di rumah, ia harus menanggung hidup dua anak dan seorang istri. Meski istrinya berjualan sayuran untuk membantu menambah penghasilan, jumlahnya tak cukup. Anaknya sudah sekolah SD. Mereka butuh makan dan butuh biaya sekolah yang tak sedikit. Tomi pun kebingungan. Sebab, pesangon yang diberikan perusahaan jumlahnya hanya cukup untuk hidup tiga bulan.

Karena tak kunjung mendapat pekerjaan pengganti, ia pun hampir putus asa. Di tengah kebingungannya itu, ia melihat istrinya justru makin banyak mendapat pelanggan. Masakan yang dibuat istrinya rupanya banyak yang suka. Di tengah kegelisahan itu, Tomi pun mendapat ide.

“Bu, bagaimana kalau mulai besok kamu jualan gudeg saja?”
“Memangnya kenapa Mas?”
“Kamu dulu pernah masakin aku gudeg enak sekali.”
“Terus?”
“Iya, aku lihat di kampung ini banyak orang Jawanya. Mereka kan biasanya kangen masakan Jawa. Kita jualan gudeg saja. Siapa tahu masakanmu makin laris,”harap Tomi.

Dugaan Tomi tak meleset. Gudeg buatan istrinya disukai pedanggan. Makin lama, gudegnya makin laris. Gudeg Yu Tom, masakan istrinya, makin dikenal. Pelan tapi pasti, pelanggannya datang dari mana-mana.

***

Kadang, tanpa kita sadari. Kita hidup dalam garis ketidakpastian. Orang bijak mengatakan hidup ini seperti roda. Kadang di atas, kadang juga di bawah. Karena itu, jangan heran. Jika suatu saat Anda menjumpai orang yang dulunya kaya raya, kini menghilang entah ke mana. Pun, jika suatu saat Anda menjumpai orang yang dua tahun lalu biasa-biasa saja, kini berubah menjadi orang yang berhasil dalam usaha. Kadang, kita juga melihat orang yang sangat sukses jadi pengusaha, justru berawal dari keterdesakan ekonomi, sebagaimana kisah di atas.

Memang, jika kita mau melihat sekitar kita, kejadian seperti itu tak jarang terjadi. Karena kepepet, karena keterdesakan ekonomi, karena keterpaksaan, orang justru menemukan hal baru yang “menyelamatkan” dirinya dari keterpurukan. Kalau istilah saya, “The power of kepepet” alias kekuatan yang muncul karena keterdesakan kondisi. Bagaimana bisa?

Begini. Kadang, saat akan memulai usaha, ada satu hal yang sering jadi ketakutan banyak orang, yakni kegagalan. Gagal kadang jadi momok yang menakutkan semua orang. Kita takut dicap jadi orang gagal. Orang gagal adalah orang kalah. Hal itulah yang membuat kita selalu mencoba menghindari kegagalan. Kalau bisa, jangan sampai gagal. Begitu juga yang muncul di benak banyak orang jika hendak memulai usaha. Siapa sih yang mau rugi kalau buka usaha? Kita juga akan selalu berusaha menghindari yang namanya kesusahan. Itu adalah fitrah manusia.

Tapi, yang terjadi sudah pasti tidak akan selalu mulus sebagaimana dambaan setiap orang. Ini yang harus disadari tiap orang. Coba, kalau dulu waktu belajar berjalan kita selalu takut jatuh. Barangkali, sampai sekarang kita tidak bisa berjalan. Atau, waktu masa kecil dulu ketika belajar naik sepeda. Berapa kali kita harus terjatuh dan luka agar bisa naik sepeda? Jadi, kita pasti melalui proses belajar dari jatuh, luka, dan gagal itu.

Kalau dianalogikan dengan jatuhnya seseorang ke dalam jurang, mungkin ia akan tersangkut beberapa kali, sampai akhirnya benar-benar jatuh ke dasar jurang. Nah, kalau sudah sampai ke dasar, yang benar-benar dasarnya jurang, apa pilihan dia? Satu-satunya pilihan adalah naik bukan? Sebab, tidak mungkin lagi kita akan jatuh ke tempat yang lebih dalam karena itulah dasarnya jurang. Begitu juga dengan kegagalan. Kalau gagal terus, suatu saat kita akan sampai ke “jatah” gagal kita yang terakhir. Kalau sudah begitu, pilihan kita hanya satu, naik alias bersiap menuju sukses.

Itulah yang terjadi pada Tomi, tokoh ilustrasi cerita tadi. Ia sedang berada dalam jurang kesusahan. Berbagai kegagalan ia alami saat akan melamar kerja. Begitu banyak penolakan yang dihadapi saat ia – yang hanya tamatan SMA – ingin kembali bekerja, guna menghidupi istri dan anaknya. Namun, setelah benar-benar mengalami kesusahan dan ia dalam kondisi yang sangat kepepet, laksana sudah berada di dasar jurang, ia justru “menemukan” jalan naik itu. Kondisi kepepet itu justru memberinya ide yang selama ini tak pernah terpikir olehnya.

Memang, dalam kondisi sangat terdesak atau kepepet, orang kadang diberi kekuatan di luar batas yang dimilikinya. Teringat masa ketika saya mengalami bencana gempa bumi dahsyat di Jogja 27 Mei 2006 lalu. Dalam kondisi kepepet, saya melihat tetangga saya sempat mengangkat tembok roboh seorang diri. Jangan kaget pula, jika suatu saat Anda melihat seorang bisa berlari sangat kencang, bahkan melebihi kecepatan atlet pelatnas, jika dikejar anjing. Bagaimana bisa? Ya, sebab, dalam kondisi kepepet, kadang muncul kekuatan yang membuat kita bisa mempunyai kemampuan di luar batas untuk menyelamatkan diri.

Itulah yang saya istilahkan “The power of kepepet”. Yah, begitu juga dalam menjalankan usaha. Jika kita terbiasa menghadapi kegagalan, kita justru akan terbiasa pula melihat peluang lain yang kadang tak kita lihat saat sedang dalam kondisi normal. Tentu, kita tidak ingin untuk menemukan ide cemerlang hanya jika dalam kondisi kepepet. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana selalu bisa memunculkan potensi – seperti saat kepepet – setiap saat, meski tidak dalam kondisi terdesak.

Jika tidak dalam kondisi kepepet, barangkali potensi masakan enak istri Tomi hanya akan jadi masakan yang dinikmati keluarganya saja. Namun, dalam kondisi terdesak, ide membuat gudeg ternyata mampu menjadi jalan keluar bagi kesulitan Tomi dan keluarga. Tentu, itu pun harus melalui proses.

Akhirnya, saya punya satu kisah nyata sebagai penutup. Kreativitas yang muncul dari keterdesakan, mampu menjadi jalan keluar masalah. Ini terjadi di Jogja, tepatnya di Kabupaten Bantul. Di sana, ada satu kedai bakmi yang sangat terkenal, namanya Bakmi Mbah Mo. Meski lokasinya terpencil, antrean orang yang akan makan di sana berderet. Mobil-mobil pelanggan yang parkir, berjejer panjang. Alkisah, larisnya warung bakmi itu karena promosi sang pemilik yang cukup unik. Karena sadar lokasinya tak strategis, ia selalu menyambangi warung-warung bakmi yang cukup ramai sembari berpromosi. Setiap kali bertemu orang, ia selalu cerita kalau di Bantul juga ada bakmi enak. Dengan promosi seperti ini, pelan tapi pasti, informasi tentang bakmi Mbah Mo menyebar. Akhirnya, hingga sekarang, meski terpencil, bakmi Mbah Mo tetap ramai dicari orang. Itulah bukti, dari keterdesakan karena keterbatasan lokasi, muncul kreativitas promosi yang jitu. Jadi, seberapa kepepetkah Anda?[awid]

* Agoeng “Mr Bright” Widyatmoko adalah konsultan independen usaha mikro, kecil, dan menengah. Trainer Sekolah Penulis Pembelajar ini juga menerbitkan buku laris “100 Peluang Usaha”. Penulis dapat dihubungi melalui email: agoeng.w@gmail.com atau sms di 0812 895 0818.

Telah di baca sebanyak: 576

Rating This Post

Comments

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





Top