Adi W Gunawan

The Symptom is The Solution


Judul artikel ini terinspirasi dari pernyataan Milton Erickson (1986), “The symptom is a solution.” Judul di atas sedikit berbeda karena saya mengubah “a” dengan “the” sebagai penekanan bahwa solusi dari satu masalah pasti dapat dicapai melalui simtom yang dialami klien.

Apakah yang dimaksud dengan”the symptom is the solution”?

Adanya suatu masalah disadari dan diketahui karena adanya simtom yang bisa dirasakan, baik pada level fisik maupun pikiran dan atau emosi. Dengan kata lain simtom ini berguna sebagai pemberitahuan resmi kepada diri kita akan adanya masalah yang perlu mendapat perhatian dan diselesaikan.

Simtom yang tidak terlalu mengganggu biasanya kurang mendapat perhatian. Biasanya bila intensitas gangguan yang ditimbulkan simtom telah cukup atau sangat mengganggu aktivitas sehari-hari barulah kita akan memberikan perhatian dan berusaha untuk bisa segera menghilangkan simtom ini.

Simtom ibarat asap. Tidak mungkin ada asap tanpa ada api. Dengan adanya asap kita dapat mencari dan menemukan api yang menjadi sumber munculnya asap. Selama api belum dipadamkan maka asap akan selalu muncul. Demikian pula simtom.

Ada dua pendekatan yang biasa digunakan dalam menyelesaikan masalah yaitu pendekatan simtomatik dan kausal. Pendekatan simtomatik bertujuan mengurangi atau menghilangkan simtom tanpa perlu menemukan dan memproses akar masalah yang melandasi munculnya simtom. Ini sama dengan menghilangkan asap tanpa mematikan api. Pendekatan ini biasanya menghasilkan solusi temporer. Cepat atau lambat akan muncul simtom yang sama atau yang berbeda.

Bila muncul simtom yang berbeda, namun dengan akar masalah yang sama, maka kondisi ini dikenal dengan mutasi simtom. Bila muncul lebih banyak simtom, bisa sama maupun berbeda, dan tetap dengan akar masalah yang sama, maka kondisi ini dinamakan proliferasi simtom.

Sebaliknya dalam pendekatan kausal simtom dihilangkan dengan cara menemukan dan memproses sumber penyebab munculnya simtom. Asap dihilangkan dengan memadamkan api. Elimasi simtom dengan pendekatan ini sifatnya permanen.

Lalu, mengapa sampai muncul simtom? Apa pesan yang ingin disampaikan simtom? Dengan adanya simtom ini baik atau buruk?

Pembaca, tahukah anda bahwa yang kita namakan simtom atau masalah dulunya adalah solusi. Namun saat klien datang dan meminta bantuan terapis, yang terjadi adalah solusi ini telah berubah menjadi masalah.

Simtom adalah solusi, namun ini adalah solusi bagi sesuatu yang terjadi jauh di masa lalu, dan sudah tidak efektif untuk menyelesaikan stres atau masalah yang kini dihadapi.

Saya beri dua contoh dari kasus yang pernah saya tangani. Seorang anak, katakanlah usia 8 tahun, kelas 2 SD, merasa sekolah cukup membebani dirinya. Ada banyak tugas dan ulangan. Satu hari ia merasa cukup tertekan, jenuh, dan tidak tahan lagi. Ada banyak tugas yang belum ia kerjakan padahal besok ada ujian matematika.

Karena merasa tidak tahan akhirnya anak jatuh sakit sehingga tidak perlu masuk sekolah. Dengan tidak masuk sekolah maka ia tidak terbebas dari keharusan mengikuti ujian. Sakit, dalam contoh ini, adalah solusi bagi masalah si anak agar terhindar dari keharusan belajar dan mengikuti ujian.

Saat ini solusi ini terjadi, dan biasanya akan terulang saat anak mengalami atau menghadapi situasi yang mirip atau sama, pikiran bawah sadar anak mencatat bahwa untuk menyelesaikan masalah banyak tugas dan ujian maka solusi terbaik adalah dengan menjadi sakit.

Awal atau kali pertama solusi ini terjadi dinamakan dengan ISE atau initial sensitizing event. Sedangkan kejadian berikut yang mirip atau sama dengan kejadian sebelumnya yang membuat pikiran bawah sadar memunculkan solusi yang sama disebut dengan SSE atau subsequent sensitizing event.

Diawali dengan ISE dan dilanjutkan dengan satu atau beberapa SSE mengakibatkan solusi sakit menjadi permanen untuk situasi yang penuh tekanan, stress, dan rasa tidak nyaman. Pola ini akan terbawa sampai dewasa.

Contoh kedua. Seorang staff marketing yang cemas dan tegang karena ditegur keras oleh pimpinannya karena tidak berhasi mencapai target merasa sangat tertekan dan berusaha mencari jalan untuk bisa segera mengakhiri pertemuan ini. Pikiran bawah sadarnya memberi respon dalam bentuk kepalanya menjadi pusing, pandangan mulai gelap, dan akhirnya ia mual dan mau muntah. Sudah tentu pertemuan dengan pimpinannya harus segera diakhiri karena kondisinya tidak memungkinkan untuk diteruskan.

Kepala pusing, pandangan mata gelap, mual dan mau muntah adalah solusi bagi masalah yang dihadapi staff marketing ini. Solusi ini dicatat dengan sangat baik oleh pikiran bawah sadarnya. Berikutnya, bila ia menghadapi situasi yang sama atau mirip dengan situasi sebelumnya maka pikiran bawah sadar akan kembali memunculkan solusi yang sama.

Pada dua contoh kasus yang saya ceritakan di atas jalan keluar dari satu masalah yang dulu adalah solusi kini justru menjadi masalah.

Lalu, bagaimana membuat solusi dari masa lalu yang berubah menjadi masalah di masa sekarang untuk bisa kembali menjadi solusi dari suatu masalah dalam hidup klien?

Kembali ke judul artikel ini. The Symptom is the solution. Terapis perlu mencari dan menemukan apa masalah yang hendak diselesaikan oleh simtom ini. Simtom ini dulunya adalah solusi dari satu masalah, di masa lalu. Berarti simtom sebenarnya bertujuan melindungi klien. Simtom adalah sesuatu yang baik.

Sebagai terapis kita perlu menemukan apa masalah awal yang ingin diselesaikan atau diatasi oleh simtom ini dan dalam situasi seperti apa solusi ini muncul.

“Solusi” atau lebih tepatnya disebut simtom muncul saat sesuatu dalam lingkungan internal maupun eksternal memicu memori tertentu. Hal ini mengaktifkan kembali kondisi di mana simtom ini tercipta, dan simtom terpicu sebagai sebuah respon terkondisi.

Dari penjelasan di atas terapis dapat berasumsi, tapi tidak selalu, bahwa saat ISE terjadi, klien mengalami pengalaman yang intens, seperti takut, marah, sedih, perasaan bersalah, yang sesuai dengan kondisi saat itu.

Kejadian berikutnya baik yang sama atau yang oleh klien dipersepsikan sama dengan kejadian awal (ISE) mengaktifkan emosi yang sama. Proses repetisi ini memperkuat emosi yang sebelumnya telah muncul.

Walau kejadian awal (ISE) sudah tidak lagi ada atau terjadi namun emosi serupa terus muncul setiap kali klien mengalami hal yang sama atau serupa dengan ISE.

Solusi yang dipilih atau diputuskan klien untuk dilakukan untuk mengatasi keadaan atau situasinya dulu mungkin sudah tepat untuk situasi saat itu, dan mungkin adalah satu-satunya opsi yang ia punya / miliki (karena keterbatasan pilihan atau kondisi yang tidak memungkikan untuk punya pilihan lain).

Tugas terapis, setelah berhasil menemukan ISE, adalah menetralisir emosi negatif, bila ada, yang timbul akibat kejadian itu, serta dilanjutkan dengan melakukan edukasi ulang pada pikiran bawah sadar klien. Ada sangat banyak teknik reedukasi pikiran bawah sadar yang bisa digunakan.

Salah satunya adalah dengan menggunakan kesadarannya pada usia saat ini klien mengamati apa yang terjadi di masa lalu dan memberikan pemaknaan baru. Teknik ini hanya bisa dilakukan dengan membawa klien masuk ke level kedalaman trance tertentu sehingga klien mengalami regresi dengan hipermnesia tipe 1.

Cara lain adalah dengan membawa klien mundur dan mengalami kembali kondisi yang menjadi masalah di masa lalu dan melakukan pemaknaan, membuat pilihan yang lebih cerdas, dan rekonstruksi memori. Teknik ini membutuhkan kedalaman trance yang jauh lebih dalam di mana klien mengalami revivifikasi tipe 1.

Setelah dilakukan terapi dan reedukasi pikiran bawah sadar maka simtom akan hilang secara permanen dan klien sembuh.

Bagaimana bila ternyata klien kambuh?

Ada beberapa kemungkinan. Pertama, simtom yang sama muncul kembali karena terapis gagal menemukan ISE. Kedua, simtom yang sama muncul sebagai akibat dari akar masalah yang berbeda. Ini terjadi karena pikiran bawah sadar memilih the path of least resistance yaitu jalur komunikasi yang sudah dikenal dan telah digunakan sebelumnya. Ketiga, simtom muncul dari akar masalah yang sama, yang sebelumnya sudah dibereskan, namun ternyata emosi yang mendasari munculnya simtom ini adalah emosi yang berbeda.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri.
www.adiwgunawan.com


Telah di baca sebanyak: 1688
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *