Andrias Harefa

Tips Anya

Dulu ia sering tampil di layar kaca. Maklum saja. Tiga kata yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan pekerjaannya adalah: model, pemain sinetron, presenter. Tingginya sedang saja, sekitar 160-an sentimeter. Wajah yang bulat telur membuatnya enak dipandang. Apalagi gerak bola matanya acap dinamis. Gadis Tiara Sunsilk (2002), Duta Keluarga Berencana dari BKKBN (2007), Duta Koperasi dan UKM (2010), dan Duta Diabetes Anak (2011) adalah sebagian dari prestasi yang pernah diraihnya. Anak bungsu dari Budhi Wibhawa dan Titien Tjasmo ini diberi nama Anya Dwinovita Pahlawanti, karena lahir di Jakarta saat peringatan Hari Pahlawan, 10 November 1982.

Kini frekuensi penampilannya di layar kaca relatif berkurang, kecuali untuk peran sebagai presenter yang memang dinikmatinya. Dunia persinetronan sudah ia tinggalkan sejak 2006, entah karena apa. Ke mana waktu dan pikirannya teralih?
“Jadwal yang saya utamakan adalah jadwal presenter atau MC atau tugas Duta saya karena untuk melakukan pekerjaan tersebut saya wajib hadir secara fisik. Setelah itu jadwal dari bisnis saya, karena secara fisik bisa saya wakilkan, sedangkan pemikiran dan keputusan-keputusan bisa melalui e-mail, telepon, BBM, dan teknologi lainnya uang sudah tersedia untuk mempermudah hidup kita. Lalu, barulah ‘me time’, termasuk untuk keluarga dan kegiatan pribadi saya,” paparnya di Kompas Kita, 27 Maret silam.

Anya Dwinov memang sudah mengalami transformasi. Hasratnya yang menggebu untuk mandiri secara finansial, telah membawanya ke dunia bisnis. Saat ini ia sudah memiliki tiga restoran di Jakarta dan Bali, serta sebuah usaha di bidang jasa perjalanan. Hotel kategori small luxury merupakan impian berikutnya, sebab “Saya ingin memiliki hotel kecil di mana saya bisa tinggal di sana sehingga sesekali bisa menyapa dan bersosialisasi dengan tamu sendiri”.

Usahanya di bidang restoran bekerja sama dengan karibnya sesama selebriti, Olga Lydia. Menurut Anya, memilih mitra kerja sangatlah penting untuk mengurangi berbagai risiko dalam berbisnis. Karena itu ia menyarankan, “Pilihlah mitra kerja yang ritme kerja dan pemikirannya sejalan. Pemilihannya dapat dimulai dari kawan yang sudah Anda kenal lama dan dekat. Meski pun tidak selalu menjamin, minimal kita sudah mengurangi risiko terkejut oleh cara berpikir dan ritme kerja orang yang baru kita kenal.” Sebuah nasihat yang bernas. Buktinya, Anya mengaku belum pernah mengalami kerugian dalam berbisnis.

Anya tidak saja punya tips dalam soal memilih mitra bisnis, tetapi juga dalam menabung. Ia menganjurkan langkah praktis agar uang beranak pinak, terutama untuk karyawan alias orang gajian. “Buka rekening di bank yang sama dengan rekening penerimaan gaji, tetapi jangan ambil fasilitas ATM, m-banking, e-banking, atau fasilitas apapun yang mempermudah uang itu keluar dari rekening tersebut. Setiap bulan begitu terima gaji, langsung transfer sekian persennya, bisa 10-30 persen, ke rekening celengan tersebut,” ujarnya.

Anya pernah mengaku suka membeli perhiasan, sebab katanya, “Saya termasuk orang yang kuno, jadi lebih nyaman berinvestasi pada hal-hal yang bisa saya pegang dan awasi sendiri. Hal-hal seperti investasi di saham, reksadana, dan sebagainya, bukan hal yang memikat saya saat ini. Jadi saya lebih nyaman menaruh uang di usaha yang bisa saya kelola dan jalankan sendiri, atau properti, atau di tabungan saja.”
Mengetahui bahwa Anya belum pernah rugi dalam berbisnis, pikiran saya langsung melayang pada kearifan yang dimuat buku The Tao of Warren Buffett (2006). Dikatakan disana, “Peraturan No.1: Jangan rugi. Peraturan No. 2: Jangan pernah lupa peraturan No.1.” Sebab rahasia terbesar untuk menjadi kaya adalah membuat uang berlipat ganda, dan semakin besar jumlah yang dimiliki di awal akan semakin baik.

Misalnya, $ 100,000 yang dilipatgandakan sebesar 15% selama 20 tahun akan berkembang menjadi$ 1,636,653, sehingga memberi Anda keuntungan $ 1,536,653. Namun, jika Anda kehilangan $ 90,000 dari modal Anda dan hanya dapat menginvestasikan $ 10,000 maka investasi Anda hanya akan menjadi $ 163,665 pada tahun ke dua puluh, dengan keuntungan $ 153,665 saja. Ini jelas angka yang jauh lebih kecil. Semakin besar kerugian Anda, semakin besar dampaknya terhadap kemampuan Anda untuk mendapatkan uang di masa mendatang. Inilah yang tidak pernah dilupakan Warren Buffett. Ini juga alasan dia tetap mengendarai mobil VW Beetle yang kuno, lama setelah dia menjadi multijutawan.
Warren Buffett, yang namanya selalu masuk dalam tiga orang terkaya di dunia itu, juga pernah mengatakan bahwa “Anda tidak dapat membuat kesepakatan yang baik dengan orang yang buruk”. Sebab orang buruk tetaplah orang yang buruk, dan mereka tidak akan memberi Anda kesepakatan yang baik.

Hal ini terkait dengan soal memilih mitra bisnis. Menurut Buffett, dunia ini memiliki cukup banyak orang yang baik dan jujur yang berhubungan bisnis dengan orang yang tidak jujur. Itu merupakan kebodohan. Bahkan jika Anda meragukan kejujuran seseorang, dengan bertanya di batin, “Apakah orang ini dapat dipercaya?” maka sebaiknya Anda mencari orang lain saja untuk berhubungan bisnis. Anda tidak ingin meragukan, apakah parasut Anda akan terbuka, ketika Anda akan segera melompat dari pesawat, bukan? Demikian juga Anda sebaiknya tidak meragukan integritas seseorang yang dengannya Anda akan melompat untuk memulai sebuah bisnis. Jika Anda tidak mempercayai mereka sekarang, Anda tidak akan dapat mempercayai mereka di kemudian hari. Jadi mengapa harus memulai hubungan bisnis bersamanya?
Sampai di sini, saya temukan Anya memiliki kedekatan pola pikir dengan Warren Buffet. Pertama dalam soal memandang kerugian. Dan kedua dalam soal memilih mitra bisnis. Ini membuat saya bertanya-tanya, akankah orang seperti Anya masuk daftar orang-orang terkaya di Indonesia pada dua puluh tahun ke depan?
Bagaimana pendapat Anda? Salam proaktif.
___________________
ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa

Telah di baca sebanyak: 1515
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *