Edy Suhardono

Trans(aksi) vs Inter(aksi)

Di kawasan pemukiman Padepokan Molek, nun jauh dari keramaian kota Baharu, awalnya hanya tinggal seorang pemilik kavling bernama Denny. Setahun kemudian muncul dua pembeli kavling baru, Errol dan Freddy, yang masing-masing datang dengan uang cash sebesar sepuluh juta rupiah.

Dengan jumlah uang yang dimiliki, Errol membeli kavling milik Denny; sementara Freddy membeli satu kavling langsung dari pengembang dengan harga sepuluh juta rupiah. Dengan demikian, keseluruhan jumlah aset nyata ketiga orang di Padepokan Molek selama tahun pertama adalah tiga puluh juta rupiah.

Setahun kemudian Freddy berpikiran lain. Dengan hanya satu kavling saja, dirinya tak punya keleluasaan berproduksi. Ia memutuskan untuk meminjam sepuluh juta rupiah dari Denny, dan setelah menjual asetnya ia membeli tanah dari Errol dengan harga dua puluh juta rupiah. Karena Denny meminjamkan sepuluh juta rupiah kepada Freddy, kini aset bersihnya adalah sepuluh juta rupiah.

Dengan menjual tanahnya kepada Freddy, Errol tinggal memiliki aset dua puluh juta rupiah. Sedang Freddy, dengan kavling seharga dua puluh juta rupiah tetapi dengan utang sebesar sepuluh juta rupiah pada Denny, ia memiliki aset bersih sebesar sepuluh juta rupiah. Dengan demikian, dalam dua tahun pertama aset yang dimiliki ketiga penghuni Padepokan Molek adalah empat puluh juta rupiah.

Godaan dan Kekhawatiran
Setahun kemudian, Denny menangkap tren bahwa nilai kavling terus meningkat sehingga merasa menyesal mengapa ia telanjur menjual kavlingnya. Tergoda memiliki aset dua puluh juta rupiah, yakni dari uang penjualan kavlingnya sebesar sepuluh juta rupiah dan uang yang dipinjamkannya kepada Freddy sepuluh juta rupiah, ia mencoba mendekati Errol untuk meminjam uang sebesar dua puluh juta rupiah guna memiliki lagi kavling tanah yang sudah dijualnya kepada Freddy dengan harga tiga puluh juta rupiah. Pembayaran dilakukan secara cash, yakni sebesar dua puluh juta rupiah, dan dari penghapusan status utang Freddy kepadanya sebesar satu juta rupiah.

Dengan demikian, Denny memiliki kavling tanah seharga tiga puluh juta rupiah; namun karena ia meminjam uang dari Errol sebesar dua puluh juta rupiah, maka aset bersihnya hanyalah sepuluh juta rupiah. Sementara, Errol yang meminjamkan uangnya ke Denny, memiliki aset dua puluh juta rupiah; sedang Freddy tetap memiliki aset sebesar dua puluh juta rupiah. Jadi, selama tiga tahun pertama, keseluruhan aset dari tiga orang penghuni Padepokan Molek telah berkembang dari tiga puluh juta rupiah menjadi lima puluh juta rupiah. Pertumbuhan yang luar biasa!

Terjadilah mekanisme pasar biasa. Melihat akselerasi harga tanah, Errol pun tergoda memiliki kavling tanah. Karenanya, ia membeli tanah dari Denny dengan harga empat puluh juta rupiah. Pembayaran dilakukan dengan meminjam dua puluh juta rupiah dari Freddy dan membatalkan status berutang Denny. Karena sudah tak lagi punya utang pada Errol, Denny pun kini memiliki aset bersih dua puluh juta rupiah. Dengan kavlingnya Errol memiliki aset empat puluh juta rupiah, namun karena masih berutang pada Freddy, aset bersihnya hanya dua puluh juta rupiah.

Aset dari keseluruhan penghuni Padepokan Molek selama empat tahun adalah enam juta rupiah. Betapa pun, sebenarnya di sana hanya terdapat dua kavling aktif dengan jumlah sirkulasi uang sebesar dua puluh juta rupiah.

Suatu hari, muncul kekhawatiran pada diri Freddy. Menurutnya, perkembangan harga kavling tanah telah mendekati titik kulminasi. Ia menaksir, Errol tak mungkin sanggup membayar utang kepadanya. Dengan data bahwa sirkulasi di kawasan Padepokan Molek hanya berada pada kisaran dua puluh juta rupiah, ia memperkirakan harga kavling Errol tak lebih besar dari nilai sepuluh juta rupiah. Kekhawatiran yang sama pun meliputi diri Denny. Akibatnya, tak seorang pun berencana melakukan transaksi tanah kavling.

Psikologi Uang, Psikologi Pengharapan
Pada posisi terakhir Denny memiliki aset dua puluh juta rupiah. Sedang Errol mengelola total empat puluh juta rupiah, yakni dua puluh juta rupiah yang ia pinjam dari Freddy dan dua kavling tanah senilai dua puluh juta.

Errol sangat berharap asetnya dapat tumbuh menjadi empat puluh juta rupiah. Apa lacur, kenyataannya asetnya tak lebih hanya sepuluh juta rupiah; gara-gara Freddy mendesaknya mengembalikan utangnya yang dua puluh juta rupiah dengan alasan bahwa uang ini telah menjadi piutang yang tak berkepastian masa depan. Benar bahwa aset bersih Freddy masih dua puluh juta rupiah, tapi apalah artinya aset sebesar ini ketika ia dirundung kegelisahan dan rasa ketidakpastian? Akhirnya, pada tahun kelima keseluruhan aset ketiga penghuni Padepokan Molek menyusut kembali menjadi tiga puluh juta rupiah!

Pertanyaannya, mengapa tiga puluh juta rupiah aset penghuni Padepokan Molek itu seolah raib begitu saja? Apakah karena sikap kemaruk seorang Errol yang menganggap bahwa asetnya niscaya menjadi empat puluh juta rupiah? Bukankah sebelum kolaps, aset keseluruhan penghuni Padepokan Molek sempat mencapai lima puluh juta rupiah di atas kertas?

Pada akhirnya tak ada pilihan lain bagi Errol ketika Freddy memintanya mengembalikan dua puluh juta rupiah dalam bentuk kavling, pun kavling dihargai hanya senilai sepuluh juta rupiah. Denny adalah pemenang karena dialah satu-satunya penghuni yang tetap memiliki aset dua puluh juta rupiah. Errol bangkrut lantaran kehilangan hampir semua asetnya karena terpuruk oleh psikologi pengharapannya.
Freddy pun tak punya pilihan selain melepaskan tanahnya seharga hanya sepuluh juta rupiah. Dengan demikian, aset keseluruhan di Padepokan Molek menjadi tinggal hanya tiga puluh juta pada akhir tahun kelima. Denny menjadi sang pemenang (the winner), Errol sang pecundang (the loser), dan Freddy menjadi “si hanyut yang beruntung” (the lucky) karena ia mengalir saja mengikuti alur permainan pasar.

Jika cerita ini diekstrapolasikan sebagai realita perekonomian sebuah negeri, kira-kira dapat ditarik premis berikut:

Manakala situasi perekonomian negara kondusif, aktivitas perputaran uang di antara warga negara pun meningkat pesat seturut alir psikologi uang/pengharapan. Pertumbuhan tetap dapat berlangsung bahkan ketika negara tak melakukan transaksi antarnegara –-misalnya Iraq ketika diembargo Amerika Serikat– sehingga logika ini mengabaikan faktor utang luar negeri.

Apakah lantas suatu bangsa dapat terbebas dari siklus utang luar negeri? Mengingat bahwa pembobotan aset diperhitungkan cukup berdasarkan pada apa yang terjadi di dalam negeri, maka dalam kondisi ekonomi stabil para pemenang adalah mereka yang mengikuti alur logika cash; para pecundang adalah para lintah darat, pedagang uang, dan tuan tanah yang sangat mengandalkan nilai aset yang bersifat timbul-tenggelam, namun menentukan kemakmuran dan kebangkrutan bangsa.

Teori supply-demand mengasumsikan bahwa pasar sangatlah kompetitif, di mana meski pasar melibatkan banyak penjual dan pembeli, namun mereka tak memiliki kemampuan untuk secara signifikan memengaruhi harga barang dan jasa. Kenyataannya berkata lain, di mana terdapat individu atau pembeli/penjual yang sangat memiliki kemampuan memengaruhi psikologi harapan. Bukankah kemenangan SBY-Boediono berhasil menaikkan sentimen pasar?

Logika ekonomi mainstream tak dapat meremehkan berbagai bentuk gerakan sosial yang terbukti mampu menggagalkan logika pasar dan mengakibatkan alokasi sumber daya yang suboptimal. Kendati pembuat kebijakan ekonomi berusaha untuk menghindari intervensi langsung pemerintah melalui peraturan yang dapat membuat pasar konsisten dengan tujuan kesejahteraan optimal, tampaknya yang tetap berlaku konsisten adalah tindakan kolektif hasil pilihan masyarakat. Hubungan antara harga dan kuantitas akhirnya menjadi rangkaian pilihan yang ditentukan berdasarkan tingkat kesejahteraan tertinggi yang dihayati khalayak warga.

Dalam logika ini, faktor penentu taraf kesejahteraan bukanlah transaksi pasar yang selama ini berada di bawah kendali luar negeri/global, tetapi oleh capaian internal yang mampu membawa kebaikan warga. Dalam logika ini, bukan transaksi mendikte interaksi, sebaliknya interaksilah yang menentukan arah transaksi.

*) Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, Oktober 2009.

Telah di baca sebanyak: 1445
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *