Kolom Alumni

Verba Volant Scirpta Manent *

Oleh: YB Riyanto

Spoken words fly away, written ones stay. Apa yang sekedar diucapkan akan hilang, sedangkan yang tertulis akan bersifat permanen. Pepatah kuno yang diambil dari pidato Caio Titus di Senat Roma itu tentunya masih sangat terasa kebenarannya hingga jaman modern ini. Apapun itu, kalau hanya sekedar dikomunikasikan secara lisan akan segera hilang. Namun, jika hal yang sama ditorehkan dalam bentuk tulisan, keabadian yang didapat.

Kebenaran adagium itu bisa dilihat dalam banyak hal di kehidupan sehari-hari. Banyak hal baik, yang bermutu dan berguna, namun hilang begitu saja karena terabaikan, terluput dari sentuhan pena. Ada dua peristiwa sejarah yang bisa dijadikan contoh untuk menunjukkan validnya pepatah itu.

Pertama, kita coba melakukan lompatan sejarah ke abad Sebelum Masehi. Dunia filsafat mengenal Sokrates sebagai filsuf pertama yang bisa dikenal pemikirannya secara langsung. Itupun bukan dari Sokrates sendiri, tetapi merupakan tulisan seorang muridnya yang terkenal, Plato. Ide, gagasan dan pemikiran Sokrates yang ditulis Plato menjadi pijakan perkembangan filsafat dan sains di kemudian hari. Bersyukurlah kita memiliki Plato sehingga karya monumental Sokrates bisa kita baca secara langsung, meski itu sudah berumur lebih dari 20 abad.

Sayangnya, para filsuf pra-Sokrates yang mempunyai pemikiran hebat dan melampaui jamannya tidak terdokumentasi dengan baik. Sebut saja diantaranya Heraklitos, Parmenides, Thales. Hanya sedikit yang kita tahu tentang ide dan gagasan mereka karena mereka tidak menuliskannya secara konsisten. Parmenides, misalnya. Hanya satu karya saja, dalam bentuk puisi, yang menjadi warisannya. Atau ucapan Heraklitos yang terkenal, you can not step twice on the same river. Doktrin Heraklitos tentang perubahan merupakan ide original. Tetapi, hanya sedikit yang kita tahu tentangnya.

Kuncinya ada pada MENULIS. Seandainya para filsuf pra sokrates ini sudah punya kesadaran akan pentingnya menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, tentunya ide dan pemikiran cemerlang mereka akan menjadi sumbangan berharga bagi dunia.

Verba volant, scripta mannet. Itulah adagium kuno yang ternyata masih sakti. Apa yang ditulis pasti akan terwariskan. Dengan demikian, kejadian, peristiwa, bahkan juga pemikiran yang ada dalam waktu tertentu bisa terdokumentasikan dengan baik dan dapat dibaca sebagai bagian dari suatu sejarah kehidupan manusia.

Peristiwa sejarah yang kedua juga menggambarkan bagaimana pentingnya suatu tulisan. Paska tergulingnya Soekarno dan naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan, mulai muncul tulisan sejarah yang dibuat oleh penguasa. Buku-buku pelajaran dibuat menurut versi dan kepentingan Orde Baru. Tulisan yang menceritakan sebaliknya akan segera diberangus tanpa ampun. Pemahaman akan sejarah terdistorsi karena disesuaikan dengan kepentingan si pemangku kekuasaan

Akibatnya, banyak anak bangsa ‘tertipu’ oleh pelintiran sejarah macam ini. Terbukti dengan stigma yang seolah bersifat kekal pada mereka yang teraliri darah pemberontak PKI – menurut Orde Baru. Stigma tersebut tidak hanya diberikan oleh penguasa tapi juga oleh masyarakat pada umumnya. Kehidupan mereka yang terkena torehan tinta hitam menjadi serba susah. Ruang gerak dibatasi. Mencari nafkah pun sulit. Mata orang lain selalu memandang dengan curiga. Generasi kedua atau ketiga yang tidak tahu menahu pun terseret ikut menderita. Sosialisme phobia secara tidak sadar tertanam di benak rakyat..

Mata rakyat mulai melek setelah Orde pemberangus kebebasan berekspresi tumbang. Mulailah bermunculan buku dan berserakan tulisan tentang sejarah dengan bermacam versi. Masyarakat menjadi terbuka pikirannya, sadar bahwa selama ini telah menjadi korban cuci otak. Banyaknya versi sejarah tidak membuat bingung tapi justru memperkaya. Tulisan sejarah merupakan sudut pandang penulis dalam meneropong dan meingterpretasikan suatu peristiwa. Wajar kalau kemudian bermunculan berbagai versi.

Itulah kekuatan suatu tulisan. The power of writing.

Dengan melihat efek suatu tulisan yang demikian hebatnya, maka menulis seharusnya dimasukkan pada kategori a Must. Kesadaran yang kurang dari para filsuf pra-Sokrates untuk menulis mungkin bisa dimahfumi karena teknologi memang terbatas. Tapi, di abad modern seperti saat ini, dimana teknologi sudah sedemikian majunya, menjadi hal yang absurd untuk tidak menulis. Dengan menorehkan pena diatas kertas atau memencet tombol keyboard, masing-masing pribadi bisa menuliskan sejarah hidupnya sendiri, dengan mengungkapkan pandangannya atas suatu peristiwa, beropini akan suatu polemik yang ada, atau juga bermain dengan kata-kata mengekspresikan isi hati.

Dengan menulis, kita bisa memperkaya sejarah bangsa ini. Paling tidak, kita bisa memperkaya sejarah hdup kita untuk bisa kita tularkan pada orang-orang terdekat kita, pada anak cucu kita. Kita menorehkan catatan penting bagi hidup kita.

Verba volant, scripta manent.

* draft awal (sebelum editing) ditulis saat diberi tugas pada sessi kedua training Menulis Artikel Menarik tanggal 4 September 2009 oleh Andrias Harefa. Tugas yang diberikan: menulis sebanyak-banyaknya kata dalam waktu 20 menit.

*) YB Riyanto, alumnus Writer Schoolen “Menulis Artikel Menarik batch 14” ini dapat dihubungi langsung di y.briyanto@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 1856
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *