Andrew Ho

Wang Yung-ching, Sang Inspirator Kunci Sukses Berbisnis

“Wang’s entrepreneurial spirit and business sense are represented the best of Taiwan. – Semangat dan kecerdasan Wang dalam berbisnis menggambarkan sesuatu yang terbaik dari Taiwan,”
Wu Poh-hing, pemimpin partai Nasionalis di Taiwan

Wang Yung-ching (1917-2008) adalah pendiri Taiwan Formosa Plastics Group sekaligus orang terkaya di Taiwan. Perjuangan hidup pria yang lahir dari keluarga petani miskin di desa Hsintein, Taiwan itu penuh dengan tantangan dan legendaris. Perjuangan hidupnya sarat dengan inspirasi kunci sukses berbisnis.

Ia mengawali perjuangan mencari uang sebagai seorang kuli di sebuah toko beras pada usia 15 tahun. Melihat produk beras yang diperdagangkan saat itu kualitasnya buruk, maka ia terinspirasi untuk mendirikan pabrik beras. Dengan modal NT 200 hasil pinjaman dari ayahnya, Wang Yung-ching berusaha keras untuk menghasilkan beras berkualitas lebih baik, walaupun harus kerja lembur memilah beras dan beristirahat hanya 4-5 jam sehari.

Ia mencerminkan bahwa seorang pengusaha sukses harus bekerja ektra keras. Wang Yung-ching menunjukkan bahwa kemiskinan justru menjadi cambuk untuk berusaha keras agar ekonominya lebih maju. Energinya menjadi begitu besar untuk bertahan mengatasi tekanan hidup dan berusaha penuh semangat mencari uang. Hasilnya, produk beras Wang Yung-ching mendapatkan respon positif dari masyarakat.

Walaupun produk berasnya disukai, tetapi ia selalu memberikan pelayanan terbaik. Ia mencontohkan bahwa seorang pengusaha tak hanya perlu mengutamakan kualitas produk tetapi juga mengedepankan pemberian pelayanan terbaik. Untuk itu ia bersedia mengantar beras pesanan konsumen, bahkan mengatur ulang beras mereka.

Dengan cermat ia juga mencatat jumlah penghuni rumah, sehingga ia dapat memperkirakan jumlah beras yang mereka konsumsi dan mengantar beras sebelum beras mereka habis. Memberikan perhatian dan pelayanan terbaik seperti itu merupakan usaha Wang membangun nama baik, yaitu suatu hal penting dalam berbisnis. Wang sudah mempraktekkannya dan terbukti ia berhasil membesarkan bisnis beras tersebut.

Seiring peningkatan suhu persaingan sejak Jepang meninggalkan Taiwan tahun 1950-an, Wang berusaha mencari peluang baru, diantaranya berbisnis kayu dan berternak ayam. Sementara itu ia juga melirik peluang emas, dimana masyarakat mulai mengunakan plastik, tetapi harganya terlalu mahal. Sehingga ia beranikan diri pada tahun 1954 berinvestasi dan membangun pabrik bernama Formosa Plastics yang menghasilkan produk plastik murah

Sikap Wang Yung-ching tersebut menunjukkan seorang pebisnis sejati, yaitu memiliki kepintaran membaca peluang dan keberanian menanggung resiko. Peluang sebesar apapun tak akan berarti apa-apa tanpa keberanian untuk menanggung resiko. Dari sanalah momentum kesuksesan Wang Yung-ching berawal.

Wang Yung-ching mencontohkan bahwa seorang pengusaha tidak boleh segera puas setelah menemukan momentum kesuksesan. Seorang pengusaha harus terus berinovasi dan pandai membaca peluang. Wang Yung-ching tak segera puas dengan momentum keberhasilan Formosa Plastics, sehingga ia segera mengembangkan bisnis ke industri-industri lain, misalnya tehnologi medis, petrolium distillation, biotehnologi, elektronik, semi conduktor, dan optoelectronik. Formosa Plastics berkembang pesat dan saat ini menjadi salah satu perusahaan kimia terbesar di dunia dengan 40 anak perusahaan dan 100 ribu karyawan.

Keberhasilan Wang Yung-ching meraih momentum kesuksesan dan mengembangkan bisnisnya hingga menggurita tak lepas ketahanan luar biasa yang ia miliki. Ia mengadopsi teori angsa kurus, dimana setiap pengusaha harus mampu bertahan melawan tantangan sekeras apapun. Ibarat berdagang es krim di musim salju, seorang pengusaha harus mampu menjajakan es tersebut sampai laku. Terbukti dengan kegigihan dan ketahanan yang luar biasa Wang Yung-ching mampu membesarkan bisnisnya dari berdagang beras hingga menjadi perusahaan kimia besar berkelas dunia.

Kunci sukses dalam berkaitan erat dengan sikap rendah hati untuk belajar dan berbenah. Dengan begitu wawasan seorang pebisnis akan terus berkembang dan menjadi lebih positif dan kreatif dalam mengembangkan bisnisnya. Hal itu juga tercermin dalam keseharian Wang Yung-ching yang selalu menyempatkan diri untuk membaca. Bahkan seusai olah raga, ia sering menulis artikel tentang analisa bisnis dan dimuat di koran Taiwan.

Kerendahan hati untuk terus belajar akan membuat pengusaha mampu menerobos dan menangkap peluang di masa datang. Wang telah membuktikan bahwa wawasan yang terus berkembang membuatnya mampu melihat masa depan pertumbuhan ekonomi Taiwan akan sangat bergantung pada China. Karenanya ia berani memelopori pengembangan bisnis dan investasi besar-besaran ke daratan China.

Sepak terjang Wang memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan ekonomi di China maupun Taiwan. Ma Ying-jeou, presiden Taiwan, menjuluki Wang sebagai ‘outstanding contribution to Taiwan and for promoting a vision of peace and prosperity with China’ – kontributor terhebat untuk Taiwan dan promotor visioner untuk perdamaian dan kesejahteraan dengan China.’

Seorang pebisnis akan sukses jika ia pandai memanajemen waktu secara seimbang, untuk istirahat, olah raga, bekerja, maupun mempelajari ilmu pengetahuan dan menjaga kesehatan. Wang berpandangan bahwa uang penting, tetapi kesehatan jauh lebih penting. Oleh sebab itu, pria berjuluk “The real son of Taiwan” itu sangat rajin berolah raga.

Setiap pagi jam 2.30 pagi ia berolah raga menggosokkan handuk ke badannya sampai terasa hangat, diteruskan dengan lari dan berenang. Jam 6-8 pagi ia tidur kembali, lalu berangkat ke kantor untuk bekerja. Aktifitas seperti itu sudah berlangsung lebih dari 30 tahun, sehingga tubuhnya selalu terlihat bugar. Tak heran meskipun berusia lebih dari 80 tahun ia masih sanggup berlari sejauh 5 kilometer.

Sukses berbisnis harus pula diimbangi pola hidup sederhana. Sebagaimana Wang mencontohkan handuk yang ia gunakan untuk berolah raga itupun masih selalu ia gunakan sampai bertahun-tahun. “Wealth is merely something society permits us to temporaly manage and put to proper use. – Kekayaan hanyalah sesuatu yang diijinkan masyarakat sementara waktu kita yang memanajemen dan menggunakannya dengan baik dan benar,” demikian wejang Wang kepada para putra dan putrinya.

Sikap dermawan merupakan ciri khas yang dimiliki sebagian besar pengusaha sukses kelas dunia. Wang sendiri lebih banyak menggunakan harta untuk aktifitas kepedulian sosial, diantaranya membangun sekolah medis dan juru rawat di Taiwan. Ia juga mendirikan rumah sakit gratis Chang Guan untuk kaum miskin pada bulan Mei 2008 di Xiamen, Fujian, China.

Sewaktu gempa bumi di Sichuan pada tahun 2008, Wang juga tak mau ketinggalan mendermakan hartanya sebesar 14,6 juta USD. Sampai akhir hayatnya Wang telah berhasil merealisasi 3.000 sekolah di Cina dari keinginannya mendirikan 10.000 sekolah gratis. Ia telah membuktikan walaupun jumlah nominal bantuan yang sudah ia donasikan cukup besar namun dari hari ke hari hartanya justru terus bertambah.

Wang yang juga dijuluki “Dewa Manajemen Taiwan” benar-benar seorang pebisnis sukses yang sangat inspiratif. Proses perjalanan hidup dan usahanya mengembangkan bisnis benar-benar menginspirasikan sikap pebisnis yang sukses. Berusaha memiliki sikap seperti Wang tak ubahnya berusaha memetik kesuksesan terbesar dalam berbisnis sekalipun krisis keuangan global sedang menghantui seperti saat ini.

Note: Wang meninggal dunia pada saat tidur sewaktu berkunjung ke perusahaannya di Amerika Serikat pasca krisis finansial global pada Oktober 2008.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best-seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

Telah di baca sebanyak: 2165
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *