Agung Praptapa

Writing Ritualism: Yang Penting Tulis Dulu

Deadline! Betapa kita selalu dihadapkan pada masalah ini! Setumpuk tugas kantor harus diselesaikan hari ini. Pekerjaan klien juga. Urusan keluarga juga tidak bisa diabaikan. Dan juga, komitmen berkontribusi ke pembelajar.com. Seharusnya sudah setor tulisan beberapa hari yang lalu tetapi sampai saat ini belum ditulis juga. Nah, deadline menyelesaikan tulisan inilah yang akan kita bahas disini. Benarkah tulisan bisa dipaksa selesai pada hari dan jam tertentu? Bukannya menulis merupakan proses kreatif yang memerlukan ide yang belum tentu kapan datangnya?

Beberapa penulis yang saya kenal sering menganjurkan untuk action saja walaupun belum ada ide mau menulis apa. “Yang penting tulis dulu” kata mereka. Nah, tulisan ini sebenarnya sedang menjalankan saran tersebut. Sampai kalimat ini saya tulis, saya belum tahu harus menulis apa. Loh..kok sudah dua paragrap? Ha…ha…katanya yang penting tulis dulu?

Kegiatan menulis menurut saya merupakan suatu kebiasaan. Sebagai suatu kebiasaan, semakin kita sering mengerjakan semakin kita akan melakukan hal tersebut sebagai ritual, yaitu kegiatan yang kita lakukan tanpa alasan. Ritual? Iya. Untuk lebih mantap atas pengertian ritual, saya kutipkan arti ritual menurut Merriam-Webster Dictionary. Dalam kamus tersebut disebutkan bahwa ritual adalah “a customarily repeated act or series of acts”. Jadi, ritual adalah kegiatan tertentu yang berulang-ulang dikerjakan atau runtutan tindakan yang dikerjakan secara berulang-ulang. Kalau sudah menjadi ritual, maka kegiatan tersebut dilaksanakan bukan karena ada “kewajiban” untuk melaksanakan, tetapi otomatis saja. Banyak hak dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa kita sadari merupakan suatu ritual saja.

Mari kita evaluasi kegiatan kita sehari-hari. Kita mandi pagi sudah merupakan ritual. Kita tidak pernah memikirkan apakah badan kita saat itu sudah kotor atau masih bersih. Kalau pagi hari ya mandi….masa tidak mandi sih? Begitu dalam hati kita yang sudah terpola. Sebuah penelitian tentang penonton televisi yang dalam melakukan penelitian menggunakan alat canggih yang disebut peoplemeter pernah terkecoh. Dengan alat tersebut akan terekam dalam satu rumah tangga channel mana yang sedang ditonton, dari jam berapa sampai jam berapa. Setelah hasil penelitian dikeluarkan dan digunakan oleh pengiklan sebagai dasar pemasangan iklan, ternyata hasilnya meleset. Mengapa demikian? Karena banyak rumah tangga yang menyalakan tv sebagai ritual saja. Mereka menyalakan tv tetapi tidak menontonnya. TV memang menyala tetapi mereka tidak menonton sama sekali tv tersebut. Ini yang disebut tv ritualism. Nah….dalam dunia tulis menulis bukannya tidak mungkin akan terjadi writing ritualism. Kalau sudah duduk di depan komputer kok otomatis menulis ya…?

Nampaknya menulis juga tidak terlepas dari masalah kebiasaan. Teman saya SMA dulu tidak pernah menulis tetapi sekarang justru bekerja sebagai wartawan. Saya ingat saat SMA dulu sempat menjadi bulan-bulanan karena kalau mendapatkan tugas mengarang ia tidak pernah bisa menulis lebih dari setengah halaman. Maka ia kalau ada tugas mengarang selalu menulis dengan huruf yang besar-besar dengan spasi yang direngganggkan agar kelihatan banyak. Ketika saya bertanya “kok bisa-bisanya kamu jadi wartawan, apa kamu bisa nulis?” dia hanya tertawa. “Aku bisa nulis karena terpaksa nulis. Kalau enggak nulis ya aku enggak makan” katanya. Saya menjadi mempunyai kesimpulan bahwa kalau dipaksa semua orang bisa menulis. Sembari menulis artikel ini saya berfikir bahwa “andaikan aku memiliki writing ritualism”, maka produksi tulisan-demi tulisan pasti akan mengalir setiap harinya.

Jadi disini dapat saya simpulkan bahwa saran para penulis yang sudah berpengalaman ternyata benar. “Yang penting tulis dulu”. Artikel ini akhirnya jadi juga kan? Sebelum saya akhiri saya buka rahasia sedikit ya….bahwa judul tulisan ini juga saya buat setelah tulisan selesai. Ha..ha….Selamat menulis!

*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis di pembelajar.com dan juga penulis buku “the art of controlling people”. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 2138
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *