Pitoyo Amrih

Yang (Pasti) Ramai Dikunjungi adalah yang Heboh?


Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (26)

Pernah seseorang menyindir dengan kalimat yang agak satir, yang mengatakan bila anda seorang penulis buku atau pembuat film, maka ketika anda inginkan pada debut pertama, sebagian besar orang akan segera menoleh kepada karya anda, maka hanya ada dua kemungkinan: yang pertama adalah, anda membuat karya anda begitu bagusnya, sehingga orang akan langsung terkesan dan berdecak kagum sehingga orang akan langsung suka kepadanya, atau anda membuat karya anda itu begitu mengundang banyak kontroversi sehingga orang dengan segera akan membencinya. Walapun mungkin terdengar seperti sebuah sindiran, tapi bila kita coba berkaca terhadap karya-karya intelektual saat ini, maka kalimat diatas sepertinya bisa dianggap sesuatu yang ‘memang faktanya demikian’.

Kemungkinan pertama, jelas amat sangat susah. Bahkan menurut saya, hanya ada pada orang yang memiliki talenta yang luar biasa, ditambah pada kemunculan pada saat yang tepat. Dan kemungkinan itu pun bisa jadi satu juta dibanding satu. Tapi hal ini sudah terbukti. Kalau misalnya saya boleh memperluas pengertian karya, juga termasuk orang-orang yang berprofesi sebagai ‘performing-art’, maka orang seperti Susan Boyle, mungkin termasuk sebagai salah satu diantara sejuta itu. Dan ‘kemunculan saat yang tepat’ baginya bisa didefinisikan dengan ekspektasi paradoks yang ada padanya. Orang yang belum pernah mendengar dia menyanyi cenderung memandang rendah kepadanya, ketika melihat penampilannya.

Kemungkinan kedua, jauh lebih mudah. Anda tinggal membuat sesuatu yang mengandung kontroversi, maka semua mata akan berpaling. Semakin memiliki kontroversi, semakin cepat orang berpaling kepada anda. Apalagi kalau karya anda cukup membuat sebagian orang tadi merasa senang secara berlebihan, atau bahkan merasa benci yang amat sangat. Tapi menurut saya, hukum alam berlaku, sesuai kata pepatah “..easy come, easy go..”. Semakin cepat atau mudah orang banyak menoleh kepada anda, biasanya semakin cepat dan mudah pula orang itu memalingkan pandangan dari anda.

Menurut saya, analogi ini rupanya bisa berlaku juga bagi sebuah situs di internet, yang selain memuat informasi, juga hampir selalu berisi karya intelektual seseorang, baik itu berupa tulisan, gambar, video, film, dan sebagainya.

Pernahkah anda sadari, kontroversi kejadian pelemparan sepatu seorang wartawan Muntazer al-Zaidi, kepada George W. Bush yang ketika itu masih menjabat presiden Amerika. Sehari setelah itu, ribuan situs menampilkan pemberitaan itu, ribuan situs menampilkan tag kejadian itu sebagai perangsang agar banyak orang berkunjung ke situs mereka. Bahkan banyak situs kemudian menawarkan game-game kreatif yang mengambil ide dari kejadian itu. Youtube.com yang kemudian juga menayangkan video kejadian itu, dari upload beberapa membernya, juga kebanjiran puluhan juta pengunjung hanya dalam hitungan hari!

Kreativitas penyelenggara Narsis.tv, bagi saya juga mengandung upaya menjaring pengunjung, dengan cara menciptakan kontroversi-kontroversi, yang lebih banyak unsur positifnya. Mereka membuat situs uploader video, yang menampung semua video pengunjung dengan daya tarik ‘senarsis mungkin’ sehingga cukup menyedot pengunjung terutama dikalangan remaja untuk mengupload film buatan mereka, yang atas rating –yang juga- berdasar pilihan pengunjung, beberapa yang menduduki ranking tertinggi akan ditayangkan pada sebuah acara di salah satu stasiun televisi. Dan dalam waktu singkat situs ini pun dikunjungi begitu banyak orang. Saya yakin dalam waktu dekat, ide serupa akan diikuti oleh penyelenggara acara lain, yang merangkul stasiun televisi lain. Seperti yang biasa terjadi, yang laku akan banyak diikuti.

Kontroversi yang menjurus negatif pun banyak juga dijadikan jalan pintas para pemiliki situs, misal dengan memanfaatkan kontroversi berita tentang si selebriti anu yang selingkuh dengan si itu, atau foto-foto syur selebriti lain, entah itu palsu atau asli. Yang ketika berita itu meledak, yang biasanya dipicu oleh media elektronik dan cetak, langsung buru-buru banyak pemilik situs yang memasukkan ‘tags cloud’ kisah itu, dengan harapan situs tersebut segera terjaring oleh search engine.

Seperti yang saya sampaikan diatas, karena kemungkinan kedua ini sangat mudah dilakukan daripada kemungkinan pertama, maka kemungkinan kedua inilah yang kemudian banyak dipilih, untuk menjadi jalan pintas yang cukup instan demi menjaring pengunjung situs dalam waktu singkat. Semakin kontroversi, akan semakin cepat petumbuhannya, semakin heboh, akan semakin cepat lagi pertumbuhannya. Karena heboh bisa berarti, kemudian akan ditayangkan oleh media lain selain internet, dan begitu ditayangkan media lain, maka pengunjung situs pun akan semakin tambah banyak lagi.

Tapi kembali perlu saya ingatkan mengenai ‘..easy come easy go..’ tadi. Semakin mudah dalam waktu singkat orang berkunjung dalam jumlah banyak, sebenarnya semakin membutuhkan tantangan kita bagaimana membuat sebuah situs itu berkualitas. Berkualitas berarti apa yang ditawarkan, tidak hanya apa yang sekedar membuat heboh tadi, tapi juga ada hal-hal pada kemungkinan pertama di sana. Sehingga jangan sampai situs kita justru ‘layu sebelum berkembang’. Saya sendiri lebih cenderung untuk menyukai kunjungan situs yang gradiennya naik secara biasa, tapi terus naik, daripada, sebentar-sebentar naik sangat tinggi, kemudian turun tajam, saat yang lain naik tinggi lagi, turun drastis lagi, sehingga bisa jadi lambat laun orang akan menyadari bahwa situs seperti ini akan dianggap sebagai sebuah situs yang oportunis mengail kunjungan, daripada situs yang secara serius berupaya membangun komunitas.

Saya mungkin bisa bercerita sedikit mengenai kota tempat tinggal saya yang menurut saya cukup istimewa dalam hal bermacam ragam kulinernya. Entah berawal dari orang Solo, yang suka bereksperimen membuat makanan yang banyak macam ragamnya, atau memang rata-rata orang Solo yang lebih suka makan di luar dari pada di rumah, yang jelas pertumbuhan tempat makan di kota Solo begitu tinggi. Walaupun belum ada yang secara tepat mendata secara akurat, tapi hampir semua yang saya tanya sepakat terhadap kesimpulan saya tadi.

Setiap tempat makan yang baru dibuka di Solo, biasanya langsung diserbu begitu banyak pengunjung. Apalagi bila saat buka itu juga disertai kampanye yang cukup lantang, buat spanduk, leaflet, brosur, banner-banner, dan sebagainya.

Tapi sekian lama saya tinggal di Solo, saya melihat bahwa tidak begitu banyak tempat makan yang bertahan langgeng cukup lama, kecuali mereka yang memang menawarkan diferensiasi yang membuat orang ingin kembali berkunjung makan di sana. Sementara sisanya, tak lebih dari orang yang sekedar datang sekali untuk ingin tahu, dan tak ada lagi kebutuhan untuk datang lagi ke sana.

Tentunya kita bisa belajar dari fenomena itu. Kita boleh-boleh saja membuat kehebohan-kehebohan pada situs kita, tapi tetap upaya dasar untuk membangun pondasi yang mantap terkait konsep yang kita tawarkan atas halaman web kita, memberikan nilai tambah yang sifatnya langgeng, dan bermanfaat bagi banyak orang…

27 April 2009, Pitoyo Amrih. www.pitoyo.com – home improvement; bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 1058
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *