Wandi S Brata

Yes – No, Yo – Nes

Anda sering ketemu atau dipojokkan dengan pertanyaan yang jawabannya tampak tak bisa lain kecuali YES or NO, YA atau TIDAK? Jangan mau dibodohi dan kemudian terjebak oleh formula pertanyaan konyol seperti itu. Telanjangi atau balikkan kekonyolannya.

Saya membaca buku Psychology in Prison karya David J. Cooke, Pemela J Baldwin & Jaqueline Howison, sebelum memutuskan untuk menerbitkan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Menyingkap Dunia Gelap Penjara (Gramedia Pustaka Utama, 2008). Buku ini penting sekali untuk memahami perilaku para narapidana dan bagaimana bisa berhubungan dengan mereka. Dan, sesungguhnya, bukan hanya membantu kita memahami narapidana, tetapi juga manusia pada umumnya. Kita akan bisa melihat dengan lebih transparan perilaku kekerasan dan gejolak jiwa maupun segala bentuk kekhawatiran yang mendasarinya.

Kelihatannya begitu spesifik sasaran buku ini, tapi sesungguhnya ini menyangkut kepentingan kita semua, dan akan bisa belajar banyak kita darinya, karena di sana disingkap seluk beluk perilaku kriminal yang akhirnya menjebloskan seseorang ke bui. Banyak hal dikupas di sini, seperti seks di lapas, termasuk homoseksualitas, prostitusi, perilaku pemerkosaan, dan akibat langsungnya: penyakit AIDS, depresi dan usaha bunuh diri. Tak lupa dikupas pula alkohol dan narkoba, depresi, kekerasan dan penyanderaan di lapas. Untuk para petugas lapas dan kita yang berada di luarnya, buku ini juga menawarkan kiat untuk mengatasi jebakan penyelidikan di meja hijau, karena bab terakhir bicara tentang tatacara persidangan, yang entah bagaimana caranya, kemungkinan bisa melibatkan Anda di dalamnya, entah sebagai terdakwa [saya berharap Anda terbebas dari yang satu ini] maupun sebagai saksi.

Di hadapan hukum, ada prinsip praduga tak bersalah. Orang jangan diberi stikma salah, kalau belum terbukti. Karena itu, tak boleh ada penghakiman di luar pengadilan formal. Tak boleh ada trial by the press atau pengadilan apalagi pembunuhan karakter lewat desas-desus. Tapi, saat persidangan, prakteknya terbalik. Si terdakwa akan disidang dengan cecaran pertanyaan yang seakan-akan justru menggunakan prinsip sebaliknya: praduga bersalah, sampai terdakwa bisa membuktikan sebaliknya.

Nah, dalam konteks itu pengacara yang piawai akan menjebak dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya perlu dijawab dengan YA atau TIDAK. Dengan memaparkan kenyataan itu, buku tersebut memberi kita wawasan yang mendongkrak kemampuan kita untuk jadi orang yang piawai menjawab pertanyaan. Gara-gara buku itu, saya mendalami model untuk mengelak dari jebakan pertanyaan konyol itu, berdasarkan beberapa pengalaman yang telah saya miliki dan praktikkan. Saya merumuskan semacam kiat: Jangan mau menanggapi pertanyaan yang memaksa kita menjawab dengan YES atau NO; sebaliknya, jawablah pertanyaan itu dengan YO [Yes yang mengandung No] dan/atau NES [No yang mengandung Yes]. Pendek kata, hindari jawaban hitam putih, dan kemukakan jawaban bernuansa yang menunjukkan kompleksitas fakta.

Dalam konteks ini, ketegasan YA atau TIDAK kadang hanya merupakan cermin dari sebentuk kenaifan kalau bukan ketololan. Kalaupun bukan, jawaban Ya atau Tidak bisa amat mencelakakan kita. Sesungguhnya, kepiawaian kita bermain-main dengan itu amat memudahkan kita menggiring lawan bicara kita [“mitra bicara” akan lebih baik dipakai kalau konteksnya terbebas dari suasana konflik] ke sasaran komunikasi yang kita kehendaki.

Untuk sekadar contoh, saya ingat bulan pertama saat mau kerja. Layaknya orang yang mau melamar kerja, ada tahapan di mana saya harus menjalani test kesehatan. Untuk itu Gramedia sudah mempunyai dokter langganan di RS Carolus. Sebelumnya saya mendapat informasi bahwa dokter yang biasa menangani pekerjaan rutin ini suka marah-marah sampai tak sungkan membentak-bentak calon karyawan. Tahu mengenai hal itu, jahil saya muncul. Saya menetapkan hati untuk ngerjain dokter itu.

Giliran saya tiba. Baru masuk, saya sudah ditanyai dengan nada judes, “Nama?”

“Wandi S Brata”

“Buka baju. Berbaring di sana!”

Dokter itu lalu sibuk menulis sesuatu, sementara saya masuk ke bilik, buka baju dan berbaring. Tak selang lama dia menghampiri saya.

“Ngrokok ya kamu?”

Halah, saya tahu, pertanyaan itu cuma basa-basi. Waktu menyuruh saya buka mulut dan melihat ke dalam dengan senter kecilnya, dia tahu persis bahwa gigi saya hitam-hitam di bagian dalam. Karena itu, sambil celelekan saya bilang, “Sesekali, Dok.”

Dia tak menanggapi jawaban saya, dan sibuk dengan prosedur standarnya. Tapi, tak lama kemudian dia berkomentar sinis, “Sesekali kok giginya hitam-hitam begini?!”

“Halahh, Dokter… sesekali aja. Hanya kalau ada.”

“Kalau tak ada?”

“Ya beli atau minta teman!”

Ha ha ha ha… ajaib, dokter itu tidak marah. Mungkin secara instinktif dia tahu bahwa tak ada gunanya marah terhadap orang yang bahkan saat menghadapi sikap dan pertanyaan judesnya pun masih santai dan berani celelekan. Dari seluruh suasana yang terbangun waktu itu mungkin secara intuitif dia menyimpulkan bahwa kalau mau nekad marah-marah malah bisa dihabisi lawannya.

Mungkin dia mati kutu karena walau celelekan saya juga tidak menipu. Saya bilang apa adanya. Sesekali itu kan artinya tergantung pada yang memberi definisi. Bisa setiap lima menit, atau sepuluh menit, satu jam atau sehari sekali. Untuk saya, sesekali itu artinya sewaktu-waktu saya butuh… ha ha ha….

Karena sejak awal saya sudah berniat ngerjain dokter itu, dan tidak mau terintimidasi oleh reputasinya sebagai orang yang suka memarahi calon karyawan, saya sengaja merumuskan jawaban sedemikian rupa sehingga kalau dokter tidak bertanya lebih lanjut, bisa dipastikan persepsinya akan melenceng, mengalami distorsi. Mungkin dia akan memandang saya sebagai perokok kacangan, padahal rokok saya Gudang Garam Merah, sehari bisa habis sebungkus, dan kalau sudah keterlaluan bisa sampai dua bungkus. Jadi, rata-rata sebatang setiap jam! Karena kretek itu awet waktu dirokok, dan kalau kita tak menghitung waktu untuk tidur karena saya belum pernah mencoba tidur sambil merokok, berarti dari waktu ke waktu saya ngebul seperti knalpot bajaj reyot. Itu dulu, sekarang saya anti rokok.

Saya menjawab pertanyaan dokter bukan untuk memuaskan dia, tapi demi pencapaian tujuan saya. Dengan bermain-main seperti itu sekurang-kurangnya ada kemungkinan bahwa saya bisa mengelabuhi dokter tanpa harus berbohong. Kalau tujuan ini gagal karena bagaimanapun dia melihat gigi saya yang hitam-hitam, tujuan lain masih tercapai: dengan sikap celelekan seperti itu saya mau menyampaikan pesan kepadanya bahwa saya tak takut bahkan kepada orang yang reputasinya sudah amat dikenal sebagai “dokter killer” yang suka membikin orang lain gemetaran. Kalau pembeli adalah raja bagi penjual, pasien adalah raja bagi para dokter, sebagai pasiennya saya tak mau terintimidasi oleh dokter gaek itu karena saya tahu bahwa dia seharusnya memperlakukan saya sebagai rajanya. Dan hari itu saya jadi raja hanya dengan modal informasi mengenai siapa yang akan saya hadapi, yang memudahkan saya mengambil sikap sebelum menemuinya.

Kalau dalam konteks celelekan saja menghindar dari pilihan YA atau TIDAK dapat amat membantu kita, apalagi dalam kasus-kasus di mana jawaban kita bisa amat menentukan hidup mati kita. Jelaslah, kepiawaian menjawab dengan jawaban kaya nuansa punya kemungkinan akan menghindarkan kita dari celaka. Mari kita lihat sampelnya.

Anda pernah mendengar cerita pembakaran buku ketika terjadi gerakan purifikasi agama? Agar tak menyinggung agama tertentu, tak usahlah kita menyebut nama agama itu. Wanti-wanti saja bahwa ternyata banyak gerakan keagamaan yang benar-benar dungu dan absurd.

Kriteria pembakaran jelas: kalau sebuah buku memuat sesuatu yang sudah ada di dalam kitab suci, tak ada perlunya duplikasi. Bakar saja buku itu. Pengarangnya boleh hidup. Kalau buku itu memuat sesuatu yang tak ada di dalam kitab suci, sudah jelas tak ada gunanya, maka bakar buku itu. Pengarangnya masih boleh hidup. Kalau isinya bertentangan dengan kitab suci, bakar buku itu bersama pengarangnya.

Nah, apa jawaban Anda kalau ditanya, “Bukumu memuat sesuatu yang sudah ada di dalam kitab suci ini atau tidak?”

Kalau buku Anda memenuhi kriterium kedua, jawablah dengan jawaban bernuansa. Siapa tahu, jawaban itu masih bisa menyelamatkan buku Anda. Dengan jawaban bernuansa, kalau buku Anda memenuhi kriterium kedua, apa buku Anda akan selamat? Saya sama sekali tidak yakin begitu! Dengan jawaban kaya nuansa, kalau buku Anda memenuhi kriterium ketiga, apakah Anda akan selamat? Jelas tidak! Buku maupun Anda sendiri tidak akan selamat, karena orang yang menetapkan kriteria seperti itu sudah jelas naif bin dungu dan tak akan sudi memahami argumentasi Anda! Jadi relakan buku dibakar, atau bersiaplah mati!

Lha, lalu untuk apa mengajukan jawaban bernuansa kalau akhirnya harus mati juga? Yah, sekurang-kurangnya untuk menunjukkan bahwa Anda tidak dungu! Ha ha ha… dan siapa tahu sejarah mencatat Anda sebagai pembelot di tengah kedunguan jaman seperti itu… sehingga anak cucu Anda akan bangga mengenang Anda sebagai kakek nenek moyang cikal bakal keberadaan mereka, yang seperti Sokrates dengan tabah dan gagah menjalani hukumannya.

Adakah kemungkinan jawaban yang cerdas dan bakal membingungkan si penanya? Coba perhatikan tiga kategori itu. Kepiawaian Anda akan terlihat ketika Anda bisa mengatakan bahwa buku Anda tidak termasuk dalam tiga kategori itu. Kalau Anda menghadapi soal seperti itu, alih-alih mengatakan bahwa buku Anda mengandung sesuatu yang sudah ada di dalam kitab suci, coba bilang, “Buku saya memuat kitab suci!” Nah, bingunglah dia. Bisa diprediksi bahwa si penanya akan bilang, “Apa maksudmu?” Dengan begitu, Anda lihat, kendali suasana tiba-tiba lepas dari tangannya. Selanjutnya, terserah Anda mau dibawa ke mana alur pembicaraan itu.

Apakah jawaban itu akan menyelamatkan Anda? Wah, ya nggak tahu saya… Anda kan berhadapan dengan penguasa naif, bebal bin dungu! Jadi, jawaban saya adalah YO and NES! Ha ha ha…***

*) Wandi S Brata; Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama; wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 5266
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *