Kolom Alumni

Zona Nyaman Zona Tak Nyaman Dalam Dunia Kerja

Oleh: Eko Supriyatno

Dalam beberapa kesempatan mengisi acara seminar bertemakan entrepreneurship, selalu ada saja pertanyaan klasik. Pertanyaan tersebut adalah bagaimana memulai bisnis supaya tidak rugi atau saya mau buka usaha tapi takut rugi. Terhadap pertanyaan ini saya biasanya tersenyum. Lalu saya katakan, “bagaimana anda tahu rugi atau untung kalau anda belum mencobanya. Padahal untung dan rugi sebenarnya adalah soal cara pandang. Pada tahun 2000 saya pernah membuka usaha bidang pendidikan. Seingat saya waktu itu, hanya bertahan sekitar 6 (enam) bulan saja. Padahal saya mengontraknya untuk jangka waktu 2 (dua) tahun.

Pasca kejadian ’kebangkrutan’ itu banyak orang yang menyarankan kepada saya tak terkecuali orang tua. Katanya, “mending cari kerja saja lebih aman, dan tiap bulan dapat penghasilan tetap alias gaji”. Jujur saja, pilihan tersebut memang tampaknya lebih rasional. Saya tergiur juga akhirnya. Jadilah saya bekerja sebagai assisten to GM Commercial sekaligus Business Manager di sebuah perusahaan distributor ternama yang mempunyai cabang hingga hampir semua provinsi di Indonesia. Ternyata, hanya bertahan sekitar 4 (empat) bulan saja. Saya memutuskan untuk keluar dari posisi yang cukup empuk itu.

Anda tahu, apa yang terjadi setelah saya memutuskan keluar? Saya menjadi bulan-bulanan orang tua saya dan keluarga saya yang lain. Habislah saya ‘diceramahi’ berhari-hari. Kebetulan waktu itu istri akan melahirkan anak yang pertama dan posisi Istri tidak bekerja. Wajarlah kalau semua orang kesannya ‘memusuhi’ saya. Namun, saya jawab dengan keyakinan. Dalam hati saya berkata, bahwa suatu saat saya pasti akan sukses. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Khaliq.

Setelah empat tahun berlalu, tahun 2004 saya memulai kembali bisnis yang pernah saya tekuni. Bara api dalam dada saya tidak pernah surut. Alhamdulillah pada tahun tersebut setidaknya saya berhasil meraih omset kurang lebih satu milliar rupiah hanya dengan empat orang pegawai termasuk saya sendiri. Angka ini menurut saya sudah cukup besar, walaupun mungkin bagi sebagian orang angka yang biasa-biasa saja.

Menjadi entrepreneur, seolah capaian luar biasa. Kelas yang lebih baik dari employee. Menuju entrepreneur, perjuangan berat. Kalau tak sabar, hanya membuat seseorang memasuki zona tak nyaman. Di mana zona nyaman? Kata teori lama, zona nyaman ditandai salah satunya dengan kepastian dalam penghasilan. Misalnya, status pegawai negeri sipil atau menjadi karyawan, adalah dunia yang dinilai masuk zona nyaman, karena kita mendapat penghasilan (gaji) tetap. Menjadi dokter, tentara, atau guru dan sejenisnya bisa juga dimasukkan dalam kelompok zona nyaman. Entrepreneur, dalam fase perintisan, selalu dimaknai sebagai dunia tidak nyaman. Karena identik dengan ketidakpastian. Yang pasti dalam dunia bisnis justeru ketidakpastian itu sendiri.

Setelah saya renungkan, paradigma ini tak selalu benar. Tengok saja, polisi dan, guru pernah berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji. Ini bukti, bahwa zona yang dianggap nyaman justeru memicu kegelisahan karena tak memadainya gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup. Unjuk rasa karyawan karena telat gaji atau hak-haknya tak terpenuhi, adalah fenomena zona yang diyakini sebagai comfort zone. Anda menganggap menjadi pegawai/karyawan adalah zona nyaman, adalah karena sebuah keyakinan yang keliru, yakni bahwa pemerintah/negara (bagi PNS, tentara, polisi, dll) atau perusahaan swasta/majikan/bos (bagi karyawan swasta, buruh, dll) meyakini bahwa merekalah yang menjamin kebutuhan Anda dalam bentuk gaji atau upah.

Zona nyaman atau tidak nyaman yang dipahami para ahli motivasi selama ini, sesungguhnya bukanlah persoalan kategoris, tetapi lebih karena kekhilafan cara pandang. Tentram atau tak tentram, nyaman atau tak nyaman, sebetulnya jelas. Ia bukan soal “di mana” kita bekerja, tetapi lebih “nilai azasi apa” yang kita pakai dalam bekerja.

Bagi kita, di mana pun dia berada, seharusnya bisa menjadi zona nyaman, apabila pijakan bertindaknya keyakinan kepada Sang Pencipta. Yakin Sang Khaliq berarti yakin: pertama, rezeki itu hak prerogative Sang Pemberi Rezeki. Sufi Abdul Qadir Jaelani menyatakan, ”Apa yang sudah ditetapkan Allah akan menjadi hakmu, tidak ada satu makhluk pun yang mampu mencegahnya, dan apa yang bukan menjadi hakmu (rezekimu), tak ada satu makhluk yang mampu membantu agar ia menjadi hakmu.” Saya fahami itu, bahwa rezeki itu urusan Sang Pemberi Rezeki sendiri dengan masing-masing hamba. Jika hamba A berusaha dengan keras mencari rezeki tapi tanpa keyakinan bahwa Sang Pemberi Rezeki akan memberi, boleh jadi Sang Pemberi Rezeki menahan rezeki itu. Atau sebaliknya, jika seorang hamba B yakin akan sifat Ar-Rozak-Nya, yakin Allah paling tahu kebutuhan hamba-Nya, boleh jadi mereka yang usahanya biasa-biasa saja malah berkecukupan. Seseorang yang sadar dunia bisnis amat dipengaruhi Hukum Kausalitas-Nya, bisa jadi sukses besar, hanya dengan memanfaatkan sedikit kecerdasan dan energi fisiknya.

Kedua, dengan hanya bergantung kepada Sang Pemberi Rezeki, rezeki dijamin. Mengandalkan teori manusiawi selama ini, belum pasti cespleng! Trust, manajemen yang baik, fasilitas dalam berbisnis memang berpengaruh dan ini tetap diperlukan, hanya dalam kapasitas sebagai penunjang. Paling esensial, percaya kepada Sang Pemberi Rezeki, bahwa kalau semua sarana dan prasarana untuk sukses sudah disediakan dengan baik dan benar, penentu akhirnya keyakinan bahwa Sang Pemberi Rezeki pasti memberi balasan atas kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas kita.

Memang, ada juga tanpa keyakinan seperti itu, orang bisa sukses dan menjadi kaya baik secara fisik dan finansial. Tetapi bagi kita, belum cukup, masih ada yang harus dituntut, yakni keberkahan. Kekayaan tanpa keberkahan adalah awal dari bencana. Sebaliknya, kekayaan yang penuh berkah, adalah kebahagiaan sejati yang harus dicari oleh tiap manusia. Toh, bukankah ujung dari semua usaha kita adalah kebahagiaan? Sang Pencipta akan menghadiahi kita berupa perniagaan yang pasti tidak merugi. Bukankah ini yang benar-benar kita cari?

Pengalaman banyak orang dan juga pribadi menunjukkan bahwa usaha maksimal yang kita bangun dengan menihilkan peran Sang Pencipta seringkali menemui kegagalan. Gagal dalam arti bangkrut maupun gagal mendapatkan ketenangan berbisnis. Dan ini, biasanya berujung pada kekecewaan.
Saya bersyukur, dalam perjalanan bisnis mendapatkan ilmu yang luar biasa dahsyat. Saya menyebutnya sebagai Zona Ilahiyah (Zi). Dengan menerapkan ilmu ini saya begitu banyak mendapatkan kemudahan dalam menjalankan aktivitas usaha. Implementasinya adalah pada Doa, Ikhtiar dan Tawakkal.

*) Eko Supriyatno. Penulis adalah Master Terapi Bisnis, Kolumnis dan Trainer berbagai pelatihan. Alumni “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller”. Batch IX. Alumnus PPM. Email: eko_supriyatno2007@yahoo.co.id atau eko@terapibisnis.com Website: www.terapibisnis.com

Telah di baca sebanyak: 1534
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *